E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal

Random header image... Refresh for more!

#Kultwit Revolusi Hijab

Tmn2, sy akan kultwit mgnai REVOLUSI HIJAB di Ind, mengacu buku anyar sy: “Marketing to the Middle Class Muslim

1. #MiddleClassMuslimah beda dg muslimah jmn dulu, kini mrk MODERN, BERWAWASAN GLOBAL, KNOWLEDGEABLE n TECHY

2. #MiddleClassMuslimah jg SOCIALLY-CONNECTED. Mrk aktif bermedia sosial spt ngeblog, Facebook n Twitter

3. #MiddleClassMuslimah jg aktif berkomunitas, itu sebabnya KOMUNITAS HIJABERS tumbuh subur sprti jamur di musim hujan

4.Semakin makmur n berpengetahuan, maka #MiddleClassMuslimah kita mjd semakin RELIGIUS

5.Di tgh gempuran globalisasi, mrk kini makin peduli utk berbusana yg sesuai dg nilai2 Islam, dg mnggunakan hijab penutup aurat

6.Seiring tumbuhnya #MiddleClassMuslimah kini muncul fenomena REVOLUSI HIJAB di Indonesia. Apa itu?

7.Yaitu fenomena dmn menggunakan hijab mjd sebuah tren gaya hidup yang meluas di kalangan #MiddleClassMuslimah Ind.

8.REVOLUSI HIJAB trjadi krn hijab sdh mjd bagian dr gaya hidup, tak hy sekedar mematuhi ketentuan2 agama

9.Klo dl mnggunakan hijab msh dianggap jadul n kampungan, mk kini mjd ssuatu yg FASHIONABLE, COOL n KEREN

10.Dulu #MiddleClassMuslimah ke ktr pakai hijab msh dianggap aneh, mk kini justru membuat mrk bangga n makin pede

11.Memakai hijab merupk bagian dr EKSPRESI DIRI sbg muslimah yg solehah, modern, open mind, knowledgeable, n techy

12.Slh satu driver tren hijab adl byknya SELEBRITI kita yg ramai2 berhijab. Mrk mendorong VIRUS revolusi hijab

13.Contoh HIJABERS CELEBRITY itu adl: Ineke Koesherawati, Zaskia, Marshanda, Dewi Sandra, dll

14.Di samping itu muncul sosok hijabers ROLE MODEL bg #MiddleClassMuslimah sprti Dian Pelangi or Fathin X Factor

15.Mrk mjd PANUTAN sbg sosok hijabers yg CANTIK, SUKSES, KREATIF, KARIR GEMILANG, n tentu SOLEHAH

16.Mrk adl POSTER CHILD bagi pr hijaber di Ind khususnya kalangan muda. Mrk mjd sosok ideal n sosok panutan

17. Revolusi hijab jg didorong oleh munculnya brand2 hijab yg cool sprti: Shafira, Zoya, Rabbani, Dian Pelangi, Irna La Perle dll.

18.Klo dulu muslimah beli hijab tak brmerek berharga murah, kini mrk mulai menyukai hijab brmerek brharga sp jutaan rupiah

19.Kini jg brmunculan HIJAB DESIGERS spt Ida Royani, Dian Pelangi, Irna Mutiara, dll yg kian mnggeliatkan psr hijab

20.Gaya fesyen hijab kini jg beragam dg mengadopsi fesyen modern sprti Threeva Style, Sarangheo Style, n Bergo Eropa Zoya Style

21.Toko Online hijab jg marak. Wajar, krn #MiddleClassMuslimah sdh biasa berselanjar di dunia maya

22.Survei Center for Middle Class Consumer Studies (CMCS): 27% #MiddleClassMuslimah beli hijab scr online

23.Hijabers mnggunakan KOMUNITAS HIJABERS utk brsosialisasi, brbagi informasi, n brbagi pngalaman brhijab

24.Majalah hijab jg tumbuh subur sprti Hijabella, Paras, Noor, Aquila, Laiqa, Khasanah, Muslimah, Mosaicht, dll

25.Di samping TUTORIAL HIJAB di Youtube jg mjd favorit bg #MiddleClassMuslimah utk mengikuti tren gaya hijab

26.Dulu, hijab tak pernah masuk dunia catwalk, kini HIJAB FASHION SHOW massif berlagsung di brbagai kota

27.Kini hampir tiap bln ada HIJAB FASHION SHOW sprti IIFF, IFW, JIFW, dll

28.Ramainya industri, disainer, n event hijab merupk modal bg Ind utk mjd World’s Center of Islamic Fashion

29.Ind berpotensi mjd pusat fesyen muslim dunia krn fesyen muslim kita inklusif n dinamis menyerap pengaruh fesyen global

30.Mari wujudkan Indonesia sbg World’s Center of Islamic Fashion, Bersama kita bisa!!!

July 22, 2014   No Comments

Garuda Terbang Tinggi

Minggu ini, tepatnya Selasa (15/7), Garuda Indonesia menorehkan sejarah. Setelah berhasil meraih penghargaan “The World’s Best Regional Airline 2012” dan “The World’s Best Economy Class 2013”, Flag carrier kebanggaan Indonesia ini kembali meraih penghargaan “The World’s Best Cabin Crew 2014” dari Skytrax. Kita tahu Skytrax adalah lembaga bergengsi di dunia penerbangan yang surveinya kredibel (tak seperti lembaga survei quick count kita.. hehe), berkedudukan di London. Tak tanggung-tanggung survei Skytrax melibatkan tak kurang dari 18 juta penumpang sebagai responden di 245 perusahaan penerbangan di seluruh dunia.

Yang menarik adalah, pramugari Garuda mampu mengalahkan pramugari Singapore Airlines dan Cathay Pacific. Kita tahu Singapore Airlines selama ini dikenal dunia karena reputasi layanan pramugarinya, yes “Singapore girls”, yang tak tertandingi oleh maskapai manapun. Saya bungah luar biasa, karena layanan pramugari Garuda dikemas dalam konsep Garuda Indonesia Experience yang mengedepankan keramahtamahan Indonesia dan menyajikan aspek-aspek terbaik dari Indonesia. Itu artinya, upaya Garuda memasarkan “keramahtamahan Indonesia” (Indonesia hospitality) kepada masyarakat dunia sukses luar biasa.

Prestasi Garuda di kancah global bukan hanya ini saja, saya mencatat setidaknya tiga tahun terakhir kepak sayap Garuda untuk go global kian kencang. Bulan Maret lalu Garuda berhasil gabung Skyteam, sebuah aliansi maskapai penerbangan dunia yang memiliki 14.000 penerbangan dengan seribu destinasi di 178 negara. Jangan dikira gampang bisa bergabung dalam aliansi global ini, persyaratan yang mereka tetapkan amat ketat dan sulit dipenuhi.

Global Chaser
Garuda adalah contoh sempurna dari merek lokal yang saya sebut: Global Chaser. Global chaser adalah pemain lokal yang memiliki kemampuan finansial, teknologi, dan manajemen berkelas global sehingga memiliki daya saing di pasar global yang sangat kokoh. Karena kemampuannya tersebut, Global Chaser tak hanya puas menjadi jago kandang, mereka juga melakukan penetrasi ke pasar global secara agresif.

Untuk memahami bagaimana posisi strategis dari perusahaan ini, ada baiknya jika sedikit saya jelaskan matriks “Beat the Giant” seperti terlihat pada bagan. Matriks ini saya bikin untuk menggambarkan posisi dan strategi yang bisa ditempuh merek lokal dalam menghadapi merek global di pasar domestik Indonesia. Empat posisi tersebut adalah: Smart Flanker, Local Challenger, Global Chaser, dan National Champion.

Matriks tersebut memiliki dua sumbu. Sumbu vertikal mencerminkan tingkat kepemilikan terhadap keunggulan lokal (local advantages) seperti: pengetahuan mendalam terhadap pasar lokal; kompetensi lokal yang unik; atau pemahaman terhadap budaya lokal. Sementara sumbu  horizontal mencerminkan kemampuan merek lokal dalam mengejar global best practices seperti kemampuan di bidang manajemen, keuangan, atau teknologi yang sudah sejajar dengan raksasa-raksasa global.


Seperti tampak dalam matriks, Global Chaser adalah pemain lokal yang lemah dalam hal keunikan lokal (low local advantages), tapi memiliki kapasitas manajemen, teknologi, dan keuangan yang tinggi (high capability to catch-up global best practices) sejajar dengan merek-merek global. Dengan posisi ini, maka pilihan strategi yang bisa diambil adalah terus mengejar kapasitas global best practices dan kalau perlu membangun daya saing untuk masuk ke pasar-pasar regional/global. Kasus Garuda menarik karena sebagai Global Chaser ia juga memiliki local advantages ampuh yang bisa dipasarkan ke masyarakat global. Jadi sebutan yang pas untuk Garuda adalah “Global Chaser Plus”.

“Indonesia Experience” Go Global
Kemenangan Garuda sebagai “World’s Best Cabin Crew” memiliki makna khusus bagi kita bangsa Indonesia? Kenapa? Karena, itu berarti konsep Garuda Indonesia Experience mulai diterima oleh konsumen dunia. Apa itu Garuda Indonesia Experience? Ini adalah konsep layanan unik khas Garuda yang memanfaatkan keunikan budaya Nusantara. Garuda menyebutnya sebagai “a new concept of service designed to allow passengers to experience Indonesia at its best”. Konsep layanan ini merupakan core differentiation bagi flag carrier ini dalam melanglang buana di pasar global.

Konsep Garuda Indonesia Experience menyentuh five sense konsumen (panca indera: sight, sound, scent, taste, touch) dan 24 customer touch points (mulai dari pre-journey, pre-flight, post flight, hingga post-journey). Gampangnya, ketika Anda terbang bersama Garuda maka Anda akan disuguhi pengalaman khas Indonesia: sapa dan senyum khas Indonesia, makanan khas Indonesia, lagu daerah khas Indonesia dengan aransemen mutakhir Addie MS, sentuhan khas Indonesia. Dengan langkah ini Garuda sekaligus melakukan country branding “memasarkan” keunikan Indonesia ke masyarakat dunia. Sebuah strategi branding yang tak hanya smart, tapi juga mulia.

Nah, selama ini saya mengira pemain Global Chaser hanya mampu go global dengan memanfaatkan kemampuan teknologi, manajemen, keuangan, SDM berkelas dunia (sumbu horisontal matriks), yang bersifat common di seluruh dunia. Jadi bukan mengandalkan local advantages Indonesia (sumbu vertikal matriks). Namun dengan modal konsep layanan Garuda Indonesia Experience, Garuda mengandalkan dua hal tersebut sekaligus. Di satu sisi membangun kemampuan teknologi, manajemen, keuangan, dan SDM agar sejajar dengan pemain global (global best practice), tapi di sisi lain juga membangun keunikan local advantages sebagai senjata pamungkas untuk mematahkan pesaing-pesaing global.

Dengan latar belakang seperti itu, saya menyebut Garuda Indonesia sebagai “pahlawan nasional”. Kenapa? Karena semakin brand Garuda kinclong di manca negara, maka semakin kinclong pula brand Indonesia. Karena itu saya selalu berdoa agar Garuda terbang kian tinggi di manca negara, karena dengan begitu nama Indonesia akan makin harum di seluruh jagat.

July 19, 2014   2 Comments

#KelasInspirasi Leadership Wisdom of Martha Tilaar & Ratna Pranata

Ini kesempatan langka! Bisa bertemu dan berdiskusi dengan dua kakak-beradik pendiri Martha Tilaar Group (MTG): Martha Tilaar dan Ratna Pranata. Mereka berdua adalah dua sosok wanita pemimpin bisnis hebat yang selama 40 tahun bahu-membahu merintis dan membesarkan Martha Tilaar Group. Kisah kepemimpinan mereka yang heroik dituliskan dalam sebuah buku yang saya tulis berjudul “Martha dan Ratna: Dua Perempuan di Balik Sukses Martha Tilaar Group” yang akan dibedah dalam #kelasInspirasi Komunitas Memberi

Saya menyebut menyebut kepemimpinan mereka berdua sebagai “Kepemimpinan Yin-Yang”. Ya, karena dua sosok pemimpin hebat ini memiliki karakter yang bertolak belakang, namun mampu saling mengisi dan melengkapi sehingga menghasilkan kesuksesan MTG yang luar biasa selama lebih dari 40 tahun. Sepang terjang mereka yang saling memberi, saling menopang, dan saling menyayangi merupakan role model bagi setiap pemimpin perusahaan keluarga.


Martha dan Ratna adalah layaknya dua sisi mata uang yang berbeda kontras, namun saling mengisi, saling melengkapi, dan saling menguatkan satu sama lain. Martha si kakak, adalah sosok yang visioner dengan insting yang tajam dalam mengembangkan bisnis-bisnis masa depan MTG. Sementara Ratna adalah kebalikannya, sosok praktis yang memiliki kemampuan mumpuni dalam eksekusi. Ratna adalah sosok yang berdisiplin tinggi dalam melakukan eksekusi dan memiliki ketelitian luar biasa dalam menjalankan setiap detail dari eksekusi tersebut.

Diskusi dengan 2 tokoh hebat ini akan dibesut dalam #kelasInspirasi Komunitas Memberi pada:

Hari/Tanggal: Kamis, 24 Juli 2014 pk. 15.00 – 17.30 WIB
Tempat: Kantor Pusat MTG, Jl. Pulokambing II no.1, Kawasan Industri Pulogadung, Jakarta
Tema: Martha & Ratna: The Yin-Yang Leadership Story
Pembicara:
Martha Tilaar, Pendiri MTG
Ratna Pranata, Pendiri MTG
Samuel Pranata, Direktur Pemasaran, MTG

Moderator:
Yuswohady, Penulis buku “Martha & Ratna”

Sekali lagi ini kesempatan teramat langka bisa belajar dua sosok pemimpin wanita legendaris yang dimiliki Indonesia. Yuk ikutan, gratis. Cukup daftar dengan mengirim data kamu: Nama, No HP, akun Twitter, alamat email, dan nama perusahaan/lembaga (kalau ada) ke email: kelas.komunitasmemberi@gmail.com dengan subject email: Daftar #KelasInspirasi

July 18, 2014   1 Comment

#KelasInspirasi Bandung: Hijab Revolution!!!

Hijab menjadi fenomena luar biasa di Indonesia sepanjang tiga tahun terakhir. Berhijab menjadi lifestyle yang keren, busana hijab bermerek begitu diminati, selebiriti ramai-ramai mengenakan hijab, majalah hijab beranak-pinak, toko online hijab boom, komunitas hijabers pun tumbuh bak jamur di musim hujan. Inilah yang disebut “Hijab Revolution”.

Hijab Revolution tak lepas dari pergeseran mendasar konsumen kelas menengah muslim Indonesia yang semakin religius. Sebagai konsumen yang knowledgeable, mereka mulai menuntuk spiritual value (yaitu ketaatan keada nilai-nilai dan ajaran Islam) dalam mengonsumsi produk dan jasa. Itu sebabnya, mereka mulai berprinsip: berbank haruslah bersih dari riba; makanan haruslah halal; dan berbusana haruslah menututp aurat.

Bagaiaman Hijab Revolution ini mengubah peta persaingan pasar di negeri yang 87% masyaraktnya  muslim ini? #KelasInspirasi Komunitas Memberi @memberiID akan mengupasnya dengan membedah buku anyar “Marketing to the Middle Class Muslim” karya Yuswohady dengan mengambil studi kasus merek hijab terkemuka: Shafira dan Zoya.

Hari/Tanggal: Rabu, 23 Juli 2014, pk. 15.00 -17.30 WIB
Tempat: Shafira Building, Jl. Sulanjana 28, Bandung
Tema: Marketing to the Middle Class Muslim: The Hijab Revolution
Pembicara:
Yuswohady, penulis buku
Agung Hidayatullah, GM Marketing Shafira Corporation

Temen-temen yuk gabung, gratissss!!!
Cukup daftar dengan mengirim data kamu: Nama, No HP, akun Twitter, alamat email, dan nama perusahaan/lembaga (kalau ada) ke email: kelas@memberi.org dengan subject email: Daftar #KelasInspirasi

July 16, 2014   No Comments

Marketing to Moslem

Hari Jumat (11/7) lalu saya meluncurkan buku terbaru berjudul Marketing to the Middle Class Muslim (Gramedia Pustaka Utama, 2014) sekaligus diskusi di Executive Lounge PPM School of Management, Menteng. Hadir sebagai pembahas orang-orang hebat: Pak Samuel Pranata (Direktur Pemasaran, Martha Tilaar Group, MTG), mas Thoriq Helmy (Direktur, Dompet Dhuafa), mbak Diajeng Lestari (pendiri Hijaup.com), dan mas Wahyu Setyobudi (pakar pemasaran, PPM School of Management), dan dengan gayeng dimoderatori oleh mas Mohamad Civic (konsultan bisnis Syariah).

Ki-ka: Moh. Civic, Sam Pranata, Wahyu Setyobudi, Thoriq Helmy, Yuswohady, Diajeng Lestari

Seru sekali kami mendiskusikan dinamika perubahan konsumen muslim di tanah air, khususnya kelas menengah yang memiliki knowledge dan daya beli tinggi. Kami sepakat bahwa dalam beberapa tahun terakhir konsumen muslim kita berubah begitu cepat sehingga menggoyahkan tatanan pasar di beberapa kategori produk yang sudah mapan sekian lama. Pak Sam, dari industri kosmetik misalnya menggambarkan, “kapal yang dulunya tenang, kini tiba-tiba tergoyang oleh gelombang laut yang bergolak”. Kita tahu di industri ini, MTG dan pemain mapan lain mendapatkan serangan cukup pelik dari Wardah yang mengusung positioning sebagai kosmetik yang halal dan Islami.

Sementara mbak Diajeng mengamini bahwa “revolusi hijab” telah berlangsung di negeri ini dimana berhijab tak hanya menjadi sebuah kewajiban agama, tapi sudah menjadi lifestyle yang keren dan cool. Ia juga setuju bahwa konsumen kini semakin menuntut manfaat spiritual (spiritual value) dari produk atau jasa. Dalam kasus industri fesyen hijab misalnya, konsumen mulai menginginkan berbusana yang sopan dan menutup aurat seperti diajarkan Islam, namun tetap tak meninggalkan gaya yang trendy dan fashionable.

Menghadapi revolusi konsumen muslim ini, dalam buku tersebut saya mengusulkan enam prinsip yang bisa dijadikan sebagai guidance bagi para marketer dalam menggarap pasar yang sedang menggeliat ini. Saya coba ringkaskan enam prinsip yang saya beri nama seksi: The Six Principles of Marketing to the Middle Class Moslem tersebut.

#1. The Principle of Customer: Customers become more religious. They begin to search for spiritual value
Inilah menariknya konsumen muslim Indonesia. Semakin makmur mereka, semakin knowledgeable mereka, dan semakin technology-savvy. justru mereka semakin religius. Mereka semakin mencari manfaat spiritual (spiritual value) dari produk yang mereka beli dan konsumsi. Yaitu produk-produk yang menjalankan kepatuhan (compliance) pada nilai-nilai dan ajaran-ajaran Islam. Ini berbeda dengan di dunia Barat misalnya, dimana ketika mereka beranjak maju, masyaraktnya justru semakin sekuler bahkan banyak yang tak memercayai lagi keberadaan Tuhan.

#2 The Principle of Competition: Competition is about building brand persona. Connect your brand to the customer’s heart
Empat sosok yang mewakili potret kelas menengah muslim (Apathist, Rationalist, Conformist, Universalist) memiliki impian, aspirasi, nilai-nilai, dan perilakunya masing-masing. Berdasarkan pemahaman mengenai karakteristik konsumen di masing-masing sosok, Anda akan tahu persis bagaimana memperlakukan mereka. Anda juga harus membangun personifikasi berdasarkan karakteristik dari masing-masing sosok tersebut, kemudian menciptakan koneksi emosional bahkan spiritual dengan mereka. Inilah yang saya sebut sebagai brand persona.

#3 The Principle of Positioning: Be an inclusive brand. Be a Universal Icon
Untuk mengambil hati kelas menengah muslim, merek Anda harus ramah-bersahabat, merangkul semua (tak hanya eksklusif sebatas kalangan muslim); open-minded alias terbuka dan berlapang dada terhadap informasi, ide, pikiran, aliran, atau pengaruh dari manapun dan siapapun; toleran terhadap perbedaan, dan selalu berpikiran positif dengan landasan kekuatan cinta. Itu semua harus Anda wujudkan dengan satu tujuan dalam rangka menghasilkan kebaikan universal (universal goodness) kepada seluruh stakeholders. Singkatnya, your brand must be an inclusive brand.

#4 The Principle of Differentiation: Build authenticity through commitment and passion. Create your own DNA.
Untuk membangun diferensiasi yang kokoh dan tak sulit ditiru oleh pesaing, maka merek Anda harus menjadi authentic brand. Anda tak cukup sekedar menempelkan label halal pada kemasan dan produk Anda. Untuk menjadi authentic brand, merek Anda harus menempatkan ketaatan kepada nilai-nilai luhur keislaman yang bersifat universal sebagai “reason for being” Anda . Untuk menjadi authentic brand mereka Anda harus menempatkan upaya-upaya mewujudkan kebaikan universal (universal goodness) sebagai “what the business are we in” Anda. Intinya, untuk menjadi authentic brand Anda harus menciptakan DNA sebagai merek Islami.

#5 The Principle of Value: Offer unique universal value. Balance your product and spiritual benefits
Ketika konsumen semakin menuntut manfaat spiritual dari sebuah produk, maka saya melihat bahwa nilai tertinggi bagi konsumen akan terwujud jika produsen mampu menghasilkan apa yang saya sebut sebagai nilai universal (universal value), yaitu gabungan antara manfaat produk (yang terdiri dari manfaat fungsional dan manfaat emosional) dan manfaat spiritual yang kemudian dibagi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan oleh konsumen. Untuk sukses Anda harus membangun bauran manfaat fungsional, emosional, dan spiritual yang unik untuk mengunci persaingan.

#6 Principle of Engagement: Connect your customers to each other. Build a community of messengers
Kaum muslim adalah kelompok sosial yang memiliki kesamaan tujuan (shared purpose) yaitu untuk mencapai keselamatan di dunia dan akhirat dengan selalu menjalankan perintah-perintah Allah SWT dan menjauhi larang-larangan-Nya. Karena by default kaum muslim adalah sebuah komunitas, maka pendekatan pemasaran yang paling ampuh untuk menggarap pasar ini adalah dengan menggunakan pendakatan komunitas (community marketing) dengan mengoneksikan satu konsumen dengan konsumen lain di dalam komunitas.

July 12, 2014   3 Comments

Pre-Order Buku “Marketing to the Middle Class Muslim”

Buku Marketing to the Middle Class Muslim baru ada di TB Gramedia pada bulan Agustus (sehabis Lebaran) mendatang. Namun bagi yang nggak sabar, temen-temen sekarang bisa mendapatkannya dengan memesan langsung via Lia (0857 8078 9897) or email: nurkamalia.makinuddin@gmail.com. Yang spesial, buku akan ada tanda tangan penulis. Cool euy!!!

July 12, 2014   1 Comment

PPM BookTalk “Marketing to the Middle Class Moslem”

Ada satu fenomena yang menarik dari konsumen kelas menengah muslim di Indonesia. Semakin makmur dan knowledgeable mereka, semakin religius pula mereka. Mereka tak hanya mencari manfaat fungsional dan emosional (functional-emotional benefit) tapi juga semakin mencari manfaat spiritual (spiritual benefit) dari produk yang mereka beli dan konsumsi. Mereka menuntut brand Anda menjalankan kepatuhan (compliance) pada nilai-nilai dan ajaran-ajaran Islam.

Buktinya? Kalau dulu konsumen muslim kurang begitu konsern dengan praktek riba dalam berbank, kini mereka menjadi peduli untuk menghindari riba (bank syariah tumbuh pesat 40% pertahun). Kalau dulu mereka tak begitu peduli dengan makanan halal, kini mereka menjadi sangat peduli (survei: 95% konsumen kosmetik mengecek label halal). Begitu pula kaum wanita muslim kini semakin konsern untuk menutup auratnya (lihat fenomena revolusi hijab).

Pasar muslim menggeliat menjadi pasar yang besar di berbagai industri seperti umroh, bank dan asuransi syariah, fesyen hijab, kosmetik halal, makanan halal, buku dan musik, hingga hotel syariah. Dengan perubahan tersebut marketer tidak bisa lagi mengabaikan pasar ini. Untuk membahas hal ini Komunitas Memberi @memberiID bersama PPM School of Management menyelenggarakan bedah buku “Marketing to the Middle Class Moslem” by Yuswohady dan talk show pada:

Hari/tanggal: Jumat, 11 Juli 2014, Pk. 15.00 – 18.00 WIB
Tema: “Memenangkan Pasar Muslim Indonesia”
Tempat: Executive Lounge, PPM School of Management
Jl. Menteng Raya No.9 Menteng Jakarta

Pembicara:
Yuswohady (Penulis buku), “Revolusi Pasar Muslim
Samuel Pranata (Martha Tilaar Group), “Boom Kosmetik Halal
Thoriq Helmi (Dompet Dhuafa), “Kian Kaya, Kian Memberi
Diajeng Lestari (Hijup.com), “Revolusi Hijab
Sugiharto (TB. Gramedia), “Geliat Penerbitan Islam
Muhammad Civic (Moderator)

Yuk join… gratis!!! cukup daftar dengan mengirim email nama, alamat email, No HP/WA, akun Twitter kamu ke: info@memberi.org atau RSVP 0888 0130 2491 biar dicatat :)

July 7, 2014   2 Comments

Marketing to the Middle Class Moslem

Bulan Agustus 2014 ini, setelah Lebaran, buku terbaru saya akan terbit. Judulnya “Marketing to the Middle Class Moslem“. Buku ini mengacu pada hasil survei yang dilakukan oleh Center for Middle Class Consumer Studies (CMCS), lembaga tink tank yang didirikan oleh Inventure bersama Majalah SWA mengenai pasar muslim di Indonesia, khususnya kelas mengahnya. Pasar muslim di Indonesia sangat challenging! Kenapa? Karena, tak cuma potensinya yang luar biasa besar (kini jumlah konsumen muslim mencapai 87 persen dari seluruh penduduk Indonesia), tapi juga dinamika perubahannya beberapa tahun terakhir mencengangkan.

Bahkan kami berani mengatakan selama 5 tahun terakhir pasar middle-class moslem di Indonesia telah mengalami revolusi karena adanya pergeseran perilaku yang sangat mendasar. Tak heran jika kemudian pasarnya menggeliat dan marketer langsung pasang kuda-kuda untuk meraupnya. Berikut ini adalah beberapa di antara perubahan kasat mata fenomena menggeliatnya pasar middle-class moslem di Indonesia.

Boom Bank Syariah

Sejak pertama kali dirintis Bank Muamalat pada tahun 1991, bank syariah di Indonesia tumbuh luar biasa mencapai hampir 40% tiap tahunnya, jauh melebihi pertumbuhan bank konvensional yang tak sampai 20%. Memang penetrasinya belum mencapai 5% (total aset) dari total pasar perbankan, namun geliat perkembangannya sungguh menjanjikan. Hingga akhir 2013 setidaknya kita telah memiliki 11 bank umum syariah (BUS), 23 bank syariah dalam bentuk unit usaha syariah (UUS), dan 160 bank pembiayaan rakyat syariah (BPRS). Kantor cabangnya mencapai 2.925 dan telah menggaet sekitar 12 juta lebih akun nasabah dengan dana pihak ketiga (DPK) yang diraup mencapai lebih dari Rp 175 triliiun. Luar biasa!!!

Revolusi Hijabers

Beberapa tahun terakhir fenomena “revolusi hijab” terjadi di Tanah Air dalam skala yang luar biasa besar. Mendadak berbusana hijab menjadi tren gaya hidup (fesyen, kosmetik, asesoris) yang menjalar bak virus ganas ke seluruh penjuru tanah air. Menariknya, tiba-tiba berhijab menjadi sesuatu yang cool, modern, trendy, techy, dan begitu diminati. Kami jadi ingat pagelaran puisi Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) berjudul “Lautan Jilbab” di kampus UGM sekitar 30 tahun lalu (kala itu masih SMA). Waktu itu kami hanya bisa membayangkan, karena memang belum kejadian. Tapi kini “lautan jilbab” itu telah hadir di mana-mana: di jalan-jalan, di mal-mal, di seminar-seminar, di acara-acara TV. Betul-betul revolusi.

Kosmetik Muslim Kian Kinclong

Wardah adalah fenomena. Seiring dengan maraknya middle-class moslem dan revolusi hijabers, Wardah muncul sebagai pemain yang tiba-tiba menyeruak mencapai puncak sukses. Para pesaing “konvensional”-nya kebit-kebit karena takut kue pasarnya terpangkas. Iklannya di TV muncul hampir tiap hari. Brand ambassador-nya gonta-ganti (dari Inneke Koesherawati hingga Dewi Sandra). Varian produk dan subbrand-nya berkembang pesat. Sukses Wardah tak sepenuhnya karena kehebatan strategi. Sukses Wardah tak lepas dari rejeki nomplok yang muncul karena menggeliatnya pasar muslimah. Dalam waktu cepat pasar kosmetik muslimah ini bergeser dari niche (ceruk) menjadi mainstream (massal), dan Wardah beruntung bisa “menunggangi” pergeseran tersebut.

Rutin Berumroh, Why Not?

Meningkatnya daya beli middle-class moslem yang diikuti dengan murahnya biaya bepergian ke luar negeri (…thanks to budget airlines) membuat bepergian ke Tanah Suci menjadi demikian mudah dan terjangkau. Hasilnya gampang ditebak: industri travel religi (umroh, haji, wisata keagamaan) menggeliat menjadi bisnis menggiurkan. Kadang kami nggak habis pikir, di beberapa daerah kantong muslim seperti Jawa Timur, antrian haji bisa mencapai belasan tahun. Ya, karena yang mau berhaji meluap, sementara jatah dari pemerintah Arab Saudi tetap jalan di tempat. Rutin berumroh (tiga tahun sekali, bahkan setiap tahun) kini juga mulai banyak kita temui di kalangan keluarga muslim di Tanah Air.

Hotel Syariah Menjamur

Label syariah kini kian seksi. Apa-apa yang berlabel syariah kini kian diminati. Contohnya hotel. Dulu sama sekali tidak terbayangkan, hotel kok syariah. Namun sejak beberapa tahun terakhir hotel model baru ini tumbuh pesat. Itu artinya, pasarnya ada dan bertumbuh. Diawali oleh Hotel Sofyan sebagai pionir yang beralih dari hotel konvensional menjadi hotel syariah sejak tahun 1994, hotel syariah kini menjamur mencapai populasi 50-100 hotel. Dulu konsep ini aneh, tapi kini sudah mulai diterima konsumen muslim. Mereka mengaku citra hotel syariah yang “bersih” dan bernuansa religius membuat konsumen mendapatkan kenyamanan sekaligus keimanan sebagai seorang muslim. Dan yang pasti hotel syariah diminati ibu-ibu yang kita tahu menguasai 80% pengeluaran rumah tangga.

Kegairahan Budaya Islam

Menggeliatnya pasar middle-class moslem juga tercermin dari tumbuh pesatnya apa yang kami sebut “produk-produk budaya bernuansa Islam” seperti buku atau novel bernuansa Islam, apps bernuansa Islam, film bernuansa Islam, musik bernuansa Islam, termasuk dakwah Islam. Novel dan film “Ayat-Ayat Cinta” menjadi trigger dari menggeliatnya pasar novel Islam di Indonesia. Di dunia dakwah kita juga menyaksikan kegairahan baru dimana para ustad bermunculan sebagai sosok yang down to earth, merakyat, modern, techy, bahkan gaul. Dimulai dari Aa Gym, kemudian beranak-pinak dari ustad Jefri hingga ustad Solmed.

Kewirausahaan Muslim

Kewirausahaan muslim adalah tren yang hot di tanah air beberapa tahun terakhir.  Driver-nya adalah komunitas-komunitas wirausahawan muslim yang menjamur di seluruh tanah air, salah satunya adalah Tangan Di Atas (TDA). Komunitas yang berdiri tahun 2006 dan sebagian besar anggotanya adalah wirausahawan muslim ini kini telah hadir di hampir 50 kota dengan anggota milis mencapai puluhan ribu anggota. Tahun lalu saya diminta menjadi pembicara Wanita Wirausaha (Wanwir) Majalah Femina di berbagai kota. Kami surprise luar biasa, karena di setiap kota yang dikunjungi sebagian besar peserta berjilbab, alias wirausahawan muslimah.

Kian Kaya, Kian Bersedekah

Hot-nya pasar middle-class moslem tak hanya tercermin dari urusan beli produk dan layanan. Menggeliatnya pasar middle-class moslem juga tercermin dari makin getolnya mereka bersedekah dan membayar zakat. Survei Inventure tahun 2013 menunjukkan bahwa pengeluaran kelas menengah untuk zakat dan sumbangan mencapai 5,4% dari total pengeluaran bulanan, sebuah angka yang cukup besar. Teman saya, mas Thoriq Helmi, salah satu direktur di Dompet Duafa, pernah bilang bahwa sedekah dan zakat yang ditampung Dompet Duafa selama ini sebagian besar diperoleh dari middle-class moslem, dan potensinya terus bertumbuh dari tahun ke tahun. Dan menariknya, “90% lebih mereka membayar zakat via electronic channel seperti transfer ATM, debit, dll,” ujar mas Thoriq. Upsss, techy amat!!!

Label Halal Jadi Rebutan

Dulu label halal tidak begitu diperhatikan konsumen kita. Namun kini, label halal mulai dilirik dan menjadi faktor penting dalam pengambilan keputusan pembelian konsumen. Tak heran jika kemudian perusahaan berlomba-lomba melabeli produknya dengan stiker halal. Ujung-ujungnya bisnis label halal pun ikutan menggeliat. Barangkali karena hal ini dua instansi kita berebut untuk mendapatkan hak mensertifikasi produk halal.

Empat Sosok Konsumen Muslim

Konsumen kelas menengah muslim di Indonesia berubah sangat cepat dan fundamental. Semakin meningkatnya kemakmuran mereka sebagai akibat keberhasilan pembangunan selama justru mendorong mereka semakin religius dan spiritual. “Makin makmur, makin pintar, makin religius.” Kalimat ini sangat pas menggambarkan pergeseran itu.

Coba saja lihat beberapa fenomena menarik berikut. Dulu orang tak begitu peduli dengan makanan halal, kini mereka menjadi sangat peduli. Survei kami misalnya, mendapati 95 persen konsumen kosmetik mengecek label halal saat membeli produk. Dulu kaum muslim kita juga tak begitu konsern dengan praktek riba dalam berbank, kini mereka mulai peduli untuk menghindari riba. Buktinya bank syariah tumbuh hingga mencapai 40 persen pertahunnya. Begitu pula kaum wanita muslim kini semakin konsern untuk menutup auratnya, terbukti dengan munculnya fenomena revolusi hijab.

Setelah melakukan survei kualitatif, saya berhasil memetakan profil konsumen kelas menengah muslim Indonesia. Saya membagi mereka ke dalam empat sosok seperti tergambar pada matriks, yaitu: Apathist, Conformist, Rationalist, dan Universalist.

Apathis: “Emang Gue Pikirin?” Sosok ini adalah tipe konsumen yang memiliki pengetahuan, wawasan, dan seringkali tingkat kesejahteraan ekonomi yang masih rendah. Di samping itu, konsumen ini memiliki kepatuhan dalam menjalankan nilai-nilai Islam yang juga rendah. Konsumen tipe ini umumnya tidak memiliki pemahaman yang cukup mengenai produk-produk berlabel Islam atau menawarkan value proposition yang Islami. Karena itu mereka tak begitu peduli apakah suatu produk bermuatan nilai-nilai keislaman ataupun tidak.

Rationalist: “Gue Dapat Apa?” Sosok ini adalah tipe konsumen yang memiliki pengetahuan, open-minded, dan wawasan global, tetapi memiliki tingkat kepatuhan pada nilai-nilai Islam yang lebih rendah. Segmen ini sangat kritis dan pragmatis dalam melakukan pemilihan produk berdasarkan parameter kemanfaatannya. Namun dalam memutuskan pembelian, mereka cenderung mengesampingkan aspek-aspek ketaatan pada nilai-nilai Islam. Bagi mereka label Islam, value proposition syariah, atau kehalalan bukanlah menjadi konsideran penting dalam mengambil keputusan pembelian.

Conformist: “Pokoknya Harus Islam” Sosok ini adalah tipe konsumen muslim yang umumnya sangat taat beribadah dan menerapkan nilai-nilai Islam secara normatif. Karena keterbatasan wawasan dan sikap yang konservatif/tradisional, sosok konsumen ini cenderung kurang membuka diri (less open-minded, less inclusive) terhadap nilai-nilai di luar Islam khususnya nilai-nilai Barat. Untuk mempermudah pengambilan keputusan, mereka memilih produk-produk yang berlabel Islam atau yang di-“endorsed” oleh otoritas Islam atau tokoh Islam panutan.

Universalist: “Islami Itu Lebih Penting” Sosok konsumen muslim ini di satu sisi memiliki pengetahuan/wawasan luas, pola pikir global, dan melek teknologi; namun di sisi lain secara teguh menjalankan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Mereka memahami dan menerapkan nilai-nilai Islam secara substantif, bukan normatif. Mereka lebih mau menerima perbedaan dan cenderung menjunjung tinggi nilai-nilai yang bersifat universal. Mereka biasanya tidak malu untuk berbeda, tetapi di sisi lain mereka cenderung menerima perbedaan orang lain. Singkatnya mereka adalah sosok yang toleran, open-minded, dan inkulsif terhadap nilai-nilai di luar Islam.

Melihat perubahan-perubahan besar yang terjadi pada konsumen kelas menengah muslim kita, pertanyaan besar kemudian muncul di kalangan pemasar: Bagaimana mereka harus merespons? Apa saja strategi dan taktik ampuh yang harus dijalankan? Untuk menjawabnya buku ini mencoba menyusun enam prinsip-prinsip generik yang bisa digunakan sebagai panduan bagi mereka untuk menggarap pasar lukratif ini. Kami menyebutnya sebagai: “The Six Principles of Marketing to the Middle Class Moslem“.

#1. The Principle of Customer:

Customers become more religious. They begin to search for spiritual value

Inilah menariknya konsumen muslim Indonesia. Semakin makmur mereka, semakin knowledgeable mereka, dan semakin technology-savvy. justru mereka semakin religius. Mereka semakin mencari manfaat spiritual (spiritual value) dari produk yang mereka beli dan konsumsi. Yaitu produk-produk yang menjalankan kepatuhan (compliance) pada nilai-nilai dan ajaran-ajaran Islam. Ini berbeda dengan di dunia Barat misalnya, dimana ketika mereka beranjak maju, masyaraktnya justru semakin sekuler bahkan banyak yang tak memercayai lagi keberadaan Tuhan.

#2 The Principle of Competition:

Competition is about building brand persona. Connect your brand to the customer’s heart

Empat sosok yang mewakili potret kelas menengah muslim di atas memiliki impian, aspirasi, nilai-nilai, dan perilakunya masing-masing. Berdasarkan pemahaman mengenai karakteristik konsumen di masing-masing sosok, Anda akan tahu persis bagaimana memperlakukan mereka. Anda juga harus membangun personifikasi berdasarkan karakteristik dari masing-masing sosok tersebut, kemudian menciptakan koneksi emosional bahkan spiritual dengan mereka. Inilah yang kami sebut sebagai brand persona.

#3 The Principle of Positioning

Be an inclusive brand. Be a Universal Icon

Untuk mengambil hati kelas menengah muslim, merek Anda harus ramah-bersahabat, merangkul semua (tak hanya eksklusif sebatas kalangan muslim); open-minded alias terbuka dan berlapang dada terhadap informasi, ide, pikiran, aliran, atau pengaruh dari manapun dan siapapun; toleran terhadap perbedaan, dan selalu berpikiran positif dengan landasan kekuatan cinta. Itu semua harus Anda wujudkan dengan satu tujuan dalam rangka menghasilkan kebaikan universal (universal goodness) kepada seluruh stakeholders. Singkatnya, your brand must be an inclusive brand.

#4 The Principle of Differentiation

Build authenticity through commitment and passion. Create your own DNA.

Untuk membangun diferensiasi yang kokoh dan tak sulit ditiru oleh pesaing, maka merek Anda harus menjadi authentic brand. Anda tak cukup sekedar menempelkan label halal pada kemasan dan produk Anda. Untuk menjadi authentic brand, merek Anda harus menempatkan ketaatan kepada nilai-nilai luhur keislaman yang bersifat universal sebagai “reason for being” Anda . Untuk menjadi authentic brand mereka Anda harus menempatkan upaya-upaya mewujudkan kebaikan universal (universal goodness) sebagai “what the business are we in” Anda. Intinya, untuk menjadi authentic brand Anda harus menciptakan DNA sebagai merek Islami.

#5 The Principle of Value:

Offer unique unversal value. Balance your product and spiritual benefits

Ketika konsumen semakin menuntut manfaat spiritual dari sebuah produk, maka kami melihat bahwa nilai tertinggi bagi konsumen akan terwujud jika produsen mampu menghasilkan apa yang kami sebut sebagai nilai universal (universal value), yaitu gabungan antara manfaat produk (yang terdiri dari manfaat fungsional dan manfaat emosional) dan manfaat spiritual yang kemudian dibagi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan oleh konsumen. Untuk sukses Anda harus membangun bauran manfaat fungsional, emosional, dan spiritual yang unik untuk mengunci persaingan.

#6 Principle of Engagement:

Connect your customers to each other. Build a community of messengers

Kaum muslim adalah kelompok sosial yang memiliki kesamaan tujuan (shared purpose) yaitu untuk mencapai keselamatan di dunia dan akhirat dengan selalu menjalankan perintah-perintah Allah SWT dan menjauhi larang-larangan-Nya. Karena by default kaum muslim adalah sebuah komunitas, maka pendekatan pemasaran yang paling ampuh untuk menggarap pasar ini adalah dengan menggunakan pendakatan komunitas (community marketing) dengan mengoneksikan satu konsumen dengan konsumen lain di dalam komunitas.

****

Saya membagi buku ini menjadi dua bagian besar. Bagian I: Perubahan dan Perilaku Konsumen membahas perubahan-perubahan dan pola perilaku konsumen kelas menengah muslim kita di berbagai industri mulai fesyen hijab, makanan halal, kosmetik halal, bank, asuransi, dan investasi syariah, hingga hotel syariah. Sementara Bagian II: Strategi dan Taktik Pemasaran membahas pemetaan segmen kelas menengah muslim yang menghasilkan empat sosok konsumen dan enam prinsip strategi yang harus dijalankan oleh para pemasar untuk menggarap pasar ini.

Selamat membaca.

July 6, 2014   3 Comments

Jokowi atau Prabowo… Kemenangan Indonesia

Bagi saya, tak penting siapa yang bakal menang pilpres hari Rabu minggu depan, Jokowi atau Prabowo. Ya, karena sejak dua nama itu muncul ke permukaan, menyusul nama-nama capres lain yang satu-persatu berguguran karena seleksi alam, saya merasa lega. Apa lagi setelah dua capres ini saling berlomba menunjukkan jati dirinya, karakternya, kompetensinya, dan niat baiknya di mimbar debat televisi, kampanye-kampanye, blusukan-blusukan, hingga silaturahmi-silaturahmi ke tokoh-tokoh masyarakat dan agama, saya semakin bungah.

Saya bungah karena yakin siapapun yang menang di antara mereka akan berarti kemenangan besar bagi Indonesia. Kenapa saya sebut kemenangan Indonesia?

Kemenangan Indonesia #1
Pertama, karena memang dua tokoh pemimpin ini adalah dua sosok pemimpin terbaik, best of the best, dari keseluruhan stock pemimpin yang kita punya. Karena mereka merupakan yang terbaik, tentu saja keduanya layak memimpin negeri ini, dan membawa Indonesia menuju ke gerbang kesuksesan. Menjadikan Indonesia sebagai negara ampuh dan berpengaruh di dunia. [Read more →]

July 5, 2014   2 Comments

Martha & Ratna

Hari Sabtu (28/6) kemarin saya meluncurkan buku saya terbaru yang ditulis bersama Samuel Pranata, Direktur Martha Tilaar Group (MTG), dan dua rekan lama saya dari Majalah SWA, Dyah Hasto Palupi dan Teguh S. Pambudi. Buku ini berjudul Martha dan Ratna: Dua Perempuan di Balik Sukses Martha Tilaar Group. Buku ini menarik karena membahas kepemimpinan bisnis perusahaan keluarga dari dua kakak-beradik pendiri MTG yaitu Martha Tilaar sang kakak dan Ratna Pranata.

Kami menyebut kepemimpinan mereka berdua sebagai “Kepemimpinan Yin-Yang”. Ya, karena dua sosok pemimpin hebat ini memiliki karakter yang bertolak belakang, namun mampu saling mengisi dan melengkapi sehingga menghasilkan kesuksesan MTG yang luar biasa selama lebih dari 40 tahun. Sepang terjang mereka yang saling memberi, saling menopang, dan saling menyayangi merupakan role model bagi setiap pemimpin perusahaan keluarga. Harap tahu saja, 70% perusahaan keluarga di seluruh dunia hanya bertahan di generasi pertama. Dan keruntuhan perusahaan keluarga tersebut umumnya disebabkan oleh friksi dan konflik antar anggota keluarga. [Read more →]

June 28, 2014   1 Comment