E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal

Random header image... Refresh for more!

Berani Ganjil

Seminggu ini saya nonton dua film yang begitu mendalam mengganggu dan memengaruhi otak saya. Keduanya kebetulan menyabet Oscar yang digelar awal minggu ini. Film pertama adalah The Imitation Game dan kedua Whiplash. Dua film ini setali tiga uang, keduanya bercerita hal yang sama, yaitu sosok yang ganjil; sosok yang terkucil dari masyarakat lingkungannya karena keganjilannya.

Yang pertama adalah Alan Turing (diperankan Bennedict Cumberbatch), “the father of computer science and artificial intelligence”, yang sepanjang hidupnya kesepian karena terbuang, tidak mendapatkan penerimaan dari lingkungannya (bahkan negaranya) karena kenylenehannya. Sementara yang kedua adalah Dr. Terence Fletcher (diperankan J.K. Simmon), pengajar di sekolah musik Shaffer yang sangat “sadis” dalam menggembleng talenta-talenta yang menjadi anak didiknya. Sama dengan Turing, Dr. Fletcher dihujat oleh lingkungannya karena pendekatan pengajarannya yang tak masuk akal. Nasib tragis menimpanya, karena ia kemudian dipecat dengan tidak hormat oleh almamaternya.

Melawan Arus
Ada satu hal yang membuat saya begitu mengagumi dua sosok ini, yaitu mereka berani ganjil. Mereka berani beda; mereka berani mengambil jalur sepi; mereka berani melawan arus dengan risiko yang tak main-main. Risiko terpinggirkan, dicemooh, dihujat, dikucilkan, dan dianggap gila. Yang saya salut, keganjilan mereka bukan asal ganjil. Keganjilan mereka dilandasi sebuah prinsip superkokoh; didasari sebuah keyakinan yang sangat dalam akarnya; dan ditopang oleh kepercayaan diri yang luar biasa. Demi sesuatu yang diyakininya mereka berani ganjil.

Keganjilan Dr. Fletcher misalnya, dilandasi keyakianan bahwa hanya dengan gaya mendidik superkeras bahkan brutal, seorang anak didik mampu di-stretch kemampuannya ke suatu tingkat yang tak terbayangkan bakal terwujud. Hanya dengan cara begitu si anak didik keluar dari zona nyaman dan menggapai capaian yang extraordinary. Ia adalah sosok hyperdemanding yang menuntut anak didiknya mencapai kesempurnaan. Inilah kata-kata Dr. Fletcher yang sangat saya suka: “There are no two words in the English language more harmful than ‘good job’.” Baginya, mengatakan “kamu sudah cukup baik” kepada anak didik adalah “racun” yang membunuh potensi dan kemampuan luar biasa si anak didik.

Sementara keganjilan Turing dilandasi kepercayaan diri yang luar biasa: kepercayaan diri seorang genius. Sejak awal Turing sadar bahwa ia adalah satu-satunya “orang terpilih” yang mampu memecahkan kode rahasia Nazi. Kepercayaan diri yang bersimbiosis dengan kejeniusan otak dan kerja superkeras ini rupanya menghasilkan sebuah penemuan besar (alat yang sekarang kita kenal sebagai “komputer”) yang kemudian mengubah sejarah dan peradaban umat manusia. Turing adalah sosok yang hadir mendahului jamannya. Itu sebabnya ia dianggap “alien” yang datang dari planet antah-berantah.

Melampaui Jaman
Turing dan Dr. Fletcher tak sendirian. Sosok seperti Copernicus, Charles Darwin, Rembrandt, Amadeus Mozart, Thomas Edison, Wright bersaudara, Sigmund Freud, atau Albert Einstein adalah sosok-sosok yang berani tampil ganjil demi prinsip-prinsip kebenaran yang mereka yakini. Mereka adalah sosok yang tidak bisa dimengerti oleh jamannya karena pemikiran-pemikirannya yang melambung jauh ke depan. Dengan persistensi dan keteguhan luar biasa mereka memegang prinsip yang mereka yakini tanpa peduli apa kata masyarakat lingkungannya. Mereka adalah sosok yang berani keluar dari mainstream.

Copernicus berpikir ganjil dengan mengatakan bahwa Matahari lah pusat tata surya, bukan Bumi seperti diyakini semua orang pada masa itu. Charles Darwin berpikir ganjil dengan melahirkan teori evolusi yang bertolak belakang dengan prinsip gereja dan paradigma keilmuan yang umum diterima saat itu. Wright bersaudara berpikir ganjil dengan memecahkan mitos bahwa manusia bisa terbang layaknya burung. Pikiran ganjil ini pula yang membuka jalan terciptanya pesawat terbang yang mampu membawa kita melintas Atlantik dalam ukuran jam.

Tak gampang menjadi orang yang berani ganjil. By default kita adalah mahluk conformist yang cenderung “mencari aman” dengan patuh pada prinsip, tatanan, dan standar yang berlaku umum dan telah mapan sebelumnya. Kita cenderung menghindari kemungkinan-kemungkinan baru karena hal itu akan memicu ketidakmenentuan, chaos, dan mengancam kenyamanan. Tapi ingat, peradaban akan menggeliat hanya jika ada sosok ganjil yang berpikir berbeda. Kemajuan umat manusia akan terwujud jika ada sosok macam Darwin, Einstein, atau Turing yang selalu mencurigai dan mempertanyakan kemampanan.

Ada satu kalimat yang menginspirasi saya, diucapkan oleh Joan Clarke (tunangan Alan Turing yang akhirnya tak jadi menikah) kepada Turing, saat si genius berada di puncak keputusasaan karena merasa terasing dari lingkungannya. “No one normal could have done that… The world is an infinitely better place precisely because you weren’t.” Intinya Joan bilang kepada Turing: “Semua penemuan hebat ini terwujud karena kamu tidak normal, karena kamu ganjil. Dunia menjadi tempat yang lebih baik berkat terhindar dari kecamuk perang karena kamu tidak normal, karena kamu ganjil.”

Saya menulis kolom ini dengan satu pesan moral: janganlah takut ganjil, karena bisa jadi keganjilan menghasilkan sesuatu yang luar biasa. “Be weird… and change the world!!!

February 28, 2015   2 Comments

Talkshow SmartFM: “Branding Buah Lokal”

Acara: Talk Show “Smart Branding”, SmartFM 95.9FM
Waktu: Senin, 23 Februari 2015, Pukul 08.00-09.00 WIB
Tema: “Branding Buah Lokal: The Sunpride Story”
Tamu: Luthfiany, Marcomm Manager, Sunpride
Host: Yuswohady

Indonesia memiliki keanekaragaman buah yang luar biasa banyak. Mulai dari salak Pondoh, apel Malang, pisang Ambon, durian, rambutan, manggis, duku dan sebagainya. Celakanya, masih sedikit sekali buah-buah yang merupakan kekayaan asli Indonesia ini diolah secara modern menghasilkan brand yang berdaya saing tinggi.

Yang justru menyedihkan adalah, buah-buah impor membanjiri supermarket-supermarket di negeri ini. Sementara buah lokal hanya puas di jual di pasar-pasar tradisional dengan kualitas memprihatinkan. Yang menjadi keresahan kita semua adalah kalau suatu saat buah lokal punah digilas oleh merek-merek buah asing tersebut.

Ini merupakan ironi, karena seharusnya buah-buah lokal menjadi tuan rumah di negeri sendiri dengan mengandalkan kekuatan brand dan quality excellence. Kalau buah-buah lokal bisa di-branding sehingga memiliki nilai tambah tinggi maka ia tak akan kalah dari industri elektronik, otomotif, bahkan industri pesawat sekalipun.

Nah, Sunpride adalah sedikit brand buah lokal yang membanggakan karena cukup berhasil membawa misi menjadikan buah lokal sebagai tuan rumah di negeri sendiri. Jangan dikira gampang membawa buah segar ke supermarket. Dibutuhkan pembibitan, penanaman, pemanenan, pengolahan pasca panen, hingga pendistribusian super rumit agar buah tetap segar dan berkualitas prima saat sampai di supermarket. Sunpride mampu melakukannya dengan standar kualitas kelas dunia. Viva brand buah lokal!!!

 

 

February 22, 2015   2 Comments

Angry Customers

Minggu ini adalah minggu “berkabung” bagi dunia penerbangan kita. Ya, karena Lion Air, brand luar biasa yang begitu sukses merevolusi industri penerbangan kita, telah mengecewakan konsumennya. Tak heran headline koran dan linimasa media sosial tiga hari terakhir dipenuhi konsumen yang marah, geram, dan meradang.

Itulah konsumen. Bisa marah-marah luar biasa. Bisa membenci sebuah brand hingga ke ubun-ubun. Bahkan mereka bisa menyebarkan kejelekan brand Anda ke keluarga, kolega, dan seluruh teman-temannya. “Satisfied Customers Tell Three Friends, Angry Customers Tell 3,000” begitu bunyi judul sebuah buku laris. Kalau Anda dibenci seorang konsumen yang telah Anda telantarkan barangkali tak begitu masalah. Tapi jika si konsumen mengajak 3000 temannya untuk ikut-ikutan membenci brand Anda, itu yang berbahaya.

Tak hanya itu, yang paling berbahaya adalah jika mereka sampai bersekutu dan bersatu-padu untuk menggalang “kebencian nasional” kepada brand karena merasa telah dikecewakan. Ingat, di era media sosial, sepotong hastag # saja di Twitter sudah lebih dari cukup untuk men-trigger sebuah “mass movement” untuk memboikot dan memorakporandakan brand Anda dalam semalam. Karena itu saya sering mengatakan, jangan main-main dengan konsumen yang marah. Anda harus memperlakukan mereka secara super serius dan super hati-hati. Bagaimana Lion Air merespons kemarahan konsumen memberikan pembelajaran berharga untuk kita renungkan.

First, Listen!!!
Langkah pertama merespons konsumen yang marah adalah dengan mendengarkannya secara sabar dan penuh perhatian. Bahkan ketika Anda benar dan si konsumen yang salah, Anda harus tetap dengan penuh kesabaran mendengarkannya. Ingat, ketika kemarahan memuncak hingga ke ubun-ubun, hal paling pertama yang mereka butuhkan adalah didengarkan. Barangkali betul Anda punya seribu macam alasan meyakinkan bahwa Anda benar dan konsumenlah yang salah, namun janganlah argumen rasional itu yang Anda majukan. Yang pertama-tama harus Anda lakukan adalah: listen, listen, and listen carefully.

Setelah mengerti betul komplain mereka, maka selanjutnya Anda harus menunjukkan simpati mendalam terhadap persoalan yang mereka hadapi dan kerugian yang Anda timbulkan. Tak lama setelah Air Asia diberitakan hilang beberapa waktu lalu, Tony Fernandes sebagai pucuk pimpinan maskapai tersebut langsung terbang ke Surabaya dan memantau detik demi detik proses pencarian pesawat.

Melalui akun Twitter-nya dan pernyataan pers, ia menunjukkan simpati yang amat mendalam terutama kepada keluarga korban. “Kami akan segera memberikan pernyataan lain. Terima kasih atas semua pemikiran dan doa, kita harus harus tetap kuat,” demikian bunyi salah satu tweet-nya. Mendengar dan memberikan simpati mendalam seperti ini belum saya lihat dalam kasus Lion Air.

Apologize Gracefully
Setelah Anda mendengarkan, mengumpulkan seluruh informasi, dan tahu betul duduk persoalannya, maka janganlah langsung berargumentasi. Hal pertama berikutnya yang harus Anda lakukan adalah meminta maaf tanpa banyak cingcong. Minta maaf adalah “magic words” dalam menghadapi konsumen yang marah. Ingat, apology is a statement of compassion. Permintaan maaf adalah “peredam” paling ampuh dalam meredakan ledakan-ledakan konsumen yang marah. Permintaan maaf menentramkan hati konsumen yang marah dan bisa menjadi jembatan bagi sebuah dialog yang penuh pengertian.

Respons Kalbe Farma atas kasus obat anestesi Buvanest Spinal produksinya yang merenggut dua pasien di rumah sakit Siloam Tangerang patut menjadi contoh. Tak lama setelah kasusnya merebak, Irawati Setiady yang menjadi pucuk pimpinan langsung meminta maaf, menyatakan sangat prihatin, sekaligus bertanggungjawab atas meninggalnya dua pasien tersebut. Respons seperti ini yang tak telihat dalam kasus Lion Air. Yang ada justru argumentasi salah satu direkturnya bahwa dua pesawat yang menabrak burung menjadi biang keterlambatan.

Ingat, ketika konsumen marah, maka yang diperlukan bukannya rasionalitas jawaban dan segudang alasan Anda, tapi empati. They don’t care your arguments. They need your empathy.

Find Solution
Pengunci kemarahan konsumen tentu saja adalah solusi atas persoalan gawat yang mereka hadapi. Kemarahan mereka akan betul-betul terhenti hanya jika Anda mampu memberikan solusi menyeluruh atas problem yang mereka hadapi. Mendengar, bersimpati, dan meminta maaf hanyalah solusi sementara untuk meredam kemarahan yang kian memuncak. Mendengar dan meminta maaf memang ampuh mendinginkan suhu kemarahan, namun tak serta-merta menuntaskan seluruh persoalan.

Di titik inilah sesungguhnya persoalan krusial yang dihadapi Lion Air saat ini. Kita tahu keterlambatan Lion Air bukanlah persoalan kemarin sore. Persoalan klasik ini sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa terlihat solusi yang memuaskan. Praktis tiap hari maskapai ini mengalami keterlambatan terutama di penerbangan-penerbangan sore dan malam. Saking seringnya terlambat, Lion Air seperti “mati rasa” menghadapi keluhan-keluhan konsumennya. Ia tak lagi memiliki kepekaan terhadap kesusahan-kesusahan konsumennya. Ia menjadi brand yang “bebal” terhadap aspirasi dan penderitaan konsumennya.

Kemarahan meradang konsumen Lion Air tiga hari lalu adalah puncak gunung es dari persoalan klasik yang sama, yang menimbun begitu lama. Konsumen menjadi demikian temperamental karena tak berdaya menghadapi brand yang begitu bebal dan mati rasa.

Kita semua cinta Lion Air sebagai sebuah brand lokal yang mencapai prestasi mengagumkan 15 tahun terakhir. Selama waktu itu harus diakui maskapai hebat ini mampu mewujudkan misi dan ambisinya: “we make people fly.” Karena itu kita tentu tak ingin kehilangan dia. Semoga membaca tulisan ini Lion Air berbenah

 

February 21, 2015   1 Comment

Personal Branding Ala Milenial

Untuk kesekian kali saya diundang Indonesia Morning Show NET TV Jumat (13/2) kemarin. Seperti biasa saya diminta mengomentari sosok creativepreneur yang menggunakan media sosial untuk membangun pengaruh di ranah online. Bintang tamunya kali ini adalah Edho Zell Pratama seorang entertainer, MC, dan presenter TV. Bagi saya Edho adalah kasus personal branding gaya baru yang menarik, yaitu personal branding dengan berolah media sosial.

Edho adalah tipikal generasi milenial (sering juga disebut Gen-Y) yang konfiden abis, superkreatif, achiever-kompetitif alias suka bersaing, hyper-connected dengan teman dan komunitasnya, lumayan narsis, dan social media freak. Tak mengherankan jika personal branding yang dikembangkannya sangat khas generasi milenial. Ia secara massif memanfaatkan media sosial untuk building brand, membangun reputasi sebagai entertainer, mengelola komunitas audiensnya baik secara offline maupun online, dan so pasti untuk jualan, jualan, dan jualan. Jualannya tentu saja bukan jualan hardsell, tapi jualan softsell khas media sosial.

Saya adalah orang yang belajar dari siapa saja tak peduli siapapun dia. Saya bisa belajar dari teorinya pakar kelas dunia, streetsmart entrepreneur yang dibesarkan di lapangan, atau bahkan tukang becak yang piawai memasarkan jasanya dengan menggunakan Facebook. Dan kali ini saya belajar banyak mengenai personal branding dari Edho, seorang yang mungkin umurnya separuh umur saya… great!!! Berikut ini pelajaran-pelajaran berharga yang saya dapat.

Multi-Platform
Untuk membangun personal brand-nya, Edho menggunakan banyak platform sosial media untuk menjangkau para audiensnya. Ia menggunakan website: www.edhozell .com yang berfungsi sebagai “etalase” komunikasi ke target audiens. Saya sebut etalase, karena di situlah ia menampilkan informasi mengenai siapa dia, prestasi-prestasinya, beberapa creative projects yang sedang ia kerjakan, atau jasa yang bisa ia tawarkan ke target pasarnya (misalnya MC). Web ini dirancang serius dan apik, melalui website inilah ia “menjual” ekspertisnya di jagad bisnis entertainment.

Di samping itu Edho menggunakan platform video dengan memanfaatkan kanal YouTube (www.youtube/edhozell) berisi video-video parodi ngocol yang rutin di-upload tiap minggu. Klip parodi “Sakitnya Tuh Di Sini” yang di-upload 4 bulan lalu misalnya, kini sudah ditonton 2 juta lebih pemirsa. Sampai akhir tahun lalu, video-videonya di YoutTube sudah ditonton lebih dari 14 juta pemirsa. Di samping itu ia juga menggunakan platform gambar dengan Instagram (www.instagram/edhozell) yang berisi mini klip mengenai guyonan atau tips-tips yang tak kalah ngocol dan kreatif. Di samping itu Edho juga memanfaatkan Twitter (@edhozell) walaupun tak seaktif YouTube dan Instagram.

Seperti diakuinya, Edho lebih fokus untuk menggunakan platform visual karena dampak engagement-nya yang lebih impactful. “Ya, karena YouTube dan Instagram lebih mudah diperbincangkan oleh netizen,” ujarnya. Memang, generasi milenial lebih menyukai bahasa gambar yang lebih instan, spontan, dan ekspresif dibanding tulisan. Seluruh kanal media sosial ini menghasilkan percakapan dan viral yang luar biasa baginya karena konten-konten yang ngaco, ngocol, dan superkreatif.

Owned + Earned
Edho juga piawai mengombinasikan owned dan earned media untuk menghasilkan dampak personal branding yang powerful. Owned media adalah media yang kita punyai seperti website, microsite, atau kanal media sosial yang bisa kontrol kontennya. Sementara earned media adalah interaksi atau percakapan konsumen mengenai brand kita baik offline atau online. Ingat, konsumen kini bisa mem-forward atau meng-RT pesan, sehingga mereka kini juga bisa menjadi media yang potensial untuk membangun personal brand.

Nah, rahasia sukses personal branding Edho sesungguhnya terletak pada kejeliannya mengolah konten di owned media yang dia kelola (website, YouTube, Instagram, Twitter) untuk menciptakan interaksi dan viral percakapan (earned media) di kalangan target audiensnya. Bagaimana caranya? Caranya adalah menciptakan konten-konten bermuatan humor nan ngocol yang menjadikan netizen rela mem-forward dan menyebarkannya ke netizen lain.

Jika interaksi dan percakapan itu berlangsung terus-menerus dan konsisten, maka pada gilirannya ia akan membangun awareness, image, dan reputation Edho sebagai entertainer. Perlu diingat, awareness, image, dan reputatioan merupakan aset berharga yang menjadikan proses jualan menjadi begitu mudah. Jualan bukan dengan cara hardsell, tapi jualan softsell. Inilah yang disebut inbound selling, dimana bukan Anda yang datang ke konsumen memaksa beli produk atau layanan Anda, tapi konsumenlah yang datang ke Anda.

Seperti halnya saya, Anda pun harus belajar dari Edho. Dan kalau Anda adalah musisi, pelawak, pesulap, politisi, dokter, pembicara publik, trainer, konsultan, pengacara, psikolog, aktivis LSM, atau wirausahawan UKM, bahkan saya berani mengatakan “wajib” hukumnya Anda melakukan apa-apa yang sudah dilakukan Edho. Tentu saja konten dan medianya harus Anda pilih sesuai dengan jasa yang Anda tawarkan. Selamat mencoba!!!

February 14, 2015   3 Comments

Bangsa Gaduh

Saya punya julukan baru untuk negeri tempat lahir beta, yang sangat saya cintai ini yaitu: “bangsa gaduh”. Sesuai namanya, bangsa ini menyukai kegaduhan. Apa-apa dibikin gaduh. Persoalan sepele dibikin muter-muter dan ruwet agar membikin gaduh. Urusan nggak penting dipenting-pentingkan atau seolah-olah penting agar riuh-rendah menimbulkan gaduh. Urusan yang lurus ditekak-tekuk, dibelak-belokkan agar berujung gaduh.

Kita sibuk berakrobat, melompat dari satu kegaduhan ke kegaduhan lain tanpa mengenal ujung-pangkal. Akrobat pemilu yang gaduh. Akrobat KMP vs KIH yang gaduh. Akrobat rapat paripurna DPR yang gaduh. Akrobat kenaikan dan penurunan harga BBM yang gaduh. Akrobat kecelakaan pesawat yang gaduh. Akrobat Cicak-Buaya Jilid 1-II yang gaduh. Pokoknya semua dibikin gaduh. Dan di tengah kegaduhan itu kita semua menjadi cheer leader bersuka-ria merayakannya.

Gaduh!!! Gaduh!!! Gaduh!!!
Kegaduhan menghisap pikiran dan tenaga kita. Bangsa ini begitu letih diperas tenaganya untuk mengurusi kegaduhan yang sambung-menyambung tanpa pernah henti. Kegaduhanlah yang membuat kita semua tak bisa kerja.

Presiden pusing tujuh keliling mengakomodasi kepentingan untuk meredam kegaduhan. Menteri-menteri tidak bisa kerja karena was-was menjadi korban kegaduhan. Pelaku usaha wait and see, nggak ngapa-ngapain menunggu kegaduhan usai. Karyawan dan buruh tak produktif karena sibuk menggosipkan kegaduhan yang selalu hot di TV dan koran-koran. Netizen sibuk memroduksi meme untuk meramaikan kegaduhan di dunia maya. Pokoknya tenaga bangsa ini terkuras habis mengurusi tetek-bengek kegaduhan yang datang silih-berganti.

Masih jelas di ingatan, bangsa ini begitu optimis tiga bulan lalu saat pemerintahan baru memproklamirkan diri sebagai pemerintahan kerja, kerja, kerja. Pemerintahan yang bercirikan kerja cak-cek tanpa banyak bicara. Tapi kini kita semua pesimis karena semboyan: “Kerja!!! Kerja!!! Kerja!!!” hanya pepesan kosong belaka menjelma menjadi semboyan: “Gaduh!!! Gaduh!!! Gaduh!!!”

Kini, hanya beberapa hari setelah 100 hari kepemimpinan pemerintah baru terlewati, kita semua gundah. Kita gundah jika agenda-agenda besar yang telah dicanangkan hanya menjadi mimpi besar belaka karena mentok di tingkat kegaduhan dan tak pernah sampai pada kerja dan realisasi kongkrit.

Yang saya takutkan adalah, keinginan besar untuk melakukan revolusi mental, membangun poros maritim dunia; kemandirian pangan dan energi; swasembada beras; efisiensi distribusi dan logistik nasional, memantapkan industri kreatif dan UKM semuanya hanya sampai di tahap kegaduhan tanpa ada kerja dan realisasi.

Yang saya takutkan, segudang agenda besar tersebut hanya cukup sampai direncanakan, didiskusikan di seminar-seminar, dikasak-kusukkan di DPR, dicari-cari kesalahannya oleh politisi, didiskreditkan oleh kelompok-kelompok kepentingan, didemo oleh mahasiswa, ditalk-showkan di TV-TV, dst-dst tanpa pernah sedikitpun dikerjakan dan direalisasikan. Persis seperti mobnas (mobil nasional) yang lebih 30 tahun kita gaduhkan tapi sampai detik ini tak tampak realisasinya.

Yang saya takutkan bangsa ini letih bahkan lumpuh ditawan oleh kegaduhan demi kegaduhan yang dengan suka cita kita ciptakan.

Bangsa Kerja
Lawan dari bangsa gaduh adalah apa yang saya sebut “bangsa kerja”. Berbeda dengan bangsa gaduh yang suka kegaduhan, bangsa kerja membuang jauh-jauh kegaduhan, intrik-intrik, fitnah-memfitnah, sikut-menyikut, dan lebih memilih fokus dan berkonsentrasi untuk kerja, kerja, dan kerja. Bangsa seperti ini umumnya prihatin, memiliki sense of crisis tinggi, memiliki common enemy yang menyatukan seluruh rakyatnya untuk maju, dan fokus menyatukan pikiran dan tindakan untuk mewujudkan tujuan dan visi bangsa.

Bicara mengenai bangsa kerja saya jadi ingat Jepang yang berjuang habis-habisan untuk menjadi negara industri baru setengah abad silam. Kala itu Jepang berhasil mengentaskan brand-brand seperti Sony, Panasonic, atau Toyota yang awalnya adalah brand kelas kambing menjadi brand yang dipercaya dan dikagumi konsumen dunia. Bagaimana Jepang bisa mewujudkannya? Dengan kerja, kerja, dan kerja, bukan dengan bergaduh ria. Bangsa ini mengesampingkan perbedaan, intrik-intrik di dalam, menyatu-padukan seluruh potensi bangsa agar bisa fokus bekerja untuk mewujudkan visi bangsa.

Singapura adalah contoh bangsa kerja yang lain. Singapura menjadi salah satu bangsa termakmur di dunia seperti sekarang karena kerja, kerja, kerja selama puluhan tahun sepi dari kegaduhan politik. Di bawah nakhoda Lee Kuan Yew yang visioner rakyat Singapura dibentuk menjadi manusia-manusia yang prihatin, berdisiplin, berdaya juang tinggi, dan kompeten melalui kerja, kerja, dan kerja. Saking sibuknya bekerja, sampai-sampai mereka “lupa” berintrik-intrik, bersikut-sikutan, dan bergaduh ria. Berlawanan 180 derajat dengan kondisi kita saat ini.

Saya tidak rela jika bangsa ini hanya puas menjadi bangsa gaduh: bangsa yang bisanya cuma membikin kegaduhan. Bangsa ini harus menjadi pejuang tangguh, berdisiplin, berketerampilan, dan berkarakter. Itu semua terwujud melalui kerja, kerja, kerja, bukan dengan membikin kegaduhan. Mari hentikan kegaduhan.

 

February 7, 2015   2 Comments

SmartFM Talk Show: “Branded Service”

Acara: Talk Show “Smart Branding”, SmartFM 95.9FM
Waktu: Senin, 2 Februari, Pukul 08.00-09.00 WIB
Tema: Branded Experience: “Garuda Indonesia Experience”
Guest: Ikhsan Rosan, Senior Manager, Public Relation, Garuda Indonesia

Pengantar Talk Show
Branded Service adalah Konsep layanan yang dikemas sedemikian rupa dan kemudian di-branding. Ingat, branding tak hanya bisa diterapkan untuk produk tapi juga layanan. Contohnya, layanan antar Pizza Hut di-branding menjadi “PHD”. Konsep layanan Hotel Santika di-branding menjadi “Indonesia Hospitality”. JNE memiliki layanan pengantaran produk kuliner yang diproduksi UKM, yang di-branding menjadi “Pesona”.

Lalu apa branded service-nya Garuda Indonesia? Layanannya dibranding dengan sebutan “Garuda Indonesia Experience”. Apa itu? Sebuah konsep layanan yang diarahkan untuk menghasilkan identitas keIndonesiaan yang sangat kental terasa di tiap tahapan layanan mulai dari pre-journey, pre-flight, in-flight, post-flight hingga post journey. Caranya dengan menyentuh lima panca indera penumpang (5 senses: sight, sound, scent, taste, touch) agar tercipta memorable experience khas Indonesia.

Di dalam kabin (in-flight) misalnya, penumpang dimanjakan oleh pramugari dengan kebaya dan batik yang khas Indonesia (sight), musik khas Nusantara yang diaransir dalam format orkestra oleh Addie MS (sound), aromaterapi yang khas bunga dan rempah-rempah asli Indonesia (scent). Tak lupa ragam cita rasa kuliner khas Nusantara (taste) dan sentuhan keramah-tamahan khas Nusantara (touch).

Branded service inilah yang menjadi resep ampuh Garuda untuk keluar dari jebakan perang harga di tengah maraknya penerbangan murah di industri penerbangan Tanah Air. Kita tahu, Garuda dikenal luas memiliki harga tiket pesawat paling mahal di antara pemain nasional lain. Tapi menariknya, konsumen “memakluminya”. Kenapa? Karena di balik harga premium tersebut terdapat great value yang sepadan.

Yuk denger dan pantengin di Radio SmartFM 95.9FM live di 8 kota… Let’s listen and learn!!!

 

February 1, 2015   No Comments

Brand Bernama KPK

KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) adalah sebuah brand. Ingat, brand tak selalu harus produk. Brand tak hanya Starbuck atau Coca Cola. Brand juga bisa perusahaan (Apple atau Google adalah brand). Brand bisa orang (Justin Bieber atau Lady Gaga adalah brand). Brand bisa kota atau negara (Yogya atau Singapura adalah brand). Dan jangan lupa, lembaga pemerintah seperti KPK juga adalah brand.

Sebagai sebuah brand, KPK adalah brand yang luar biasa hebat. Bahkan saya berani mengatakan KPK lebih hebat dari brand-brand hebat seperti Sosro, Indomie, atau Garuda Indonesia. Kenapa bisa begitu? Untuk menjelaskannya, saya menggunakan apa yang saya sebut “tangga brand”.

Tangga Brand
Tangga brand adalah sebuah tangga yang menggambarkan tingkat kehebatan sebuah brand. Tingkatan kehebatan brand tercermin dari posisinya di undakan tangga. Makin tinggi sebuah brand mencapai undakan, semakin hebat brand tersebut, begitupun sebaliknya. Namanya tangga, untuk mencapai undakan tangga ketiga, maka tentu saja sebelumnya Anda harus menapaki tangga pertama dan kedua.

Di undakan pertama adalah jika sebuah brand sebatas dikenal oleh para konsumennya, atau dalam konsep branding disebut brand awareness. Brand awareness adalah pondasi dari terbentuknya ekuitas sebuah brand (brand equity) sehingga keberadaannya begitu penting. Kalau sebuah brand sudah dikenal luas, so what? Kalau sudah dikenal maka brand haruslah memiliki asosiasi (brand association) yang kuat. Toyota Kijang misalnya, memiliki asosiasi kuat sebagai mobil keluarga. Lux memiliki asosiasi yang kuat sebagai sabunnya para bintang film. Atau Clear memiliki asosiasi yang kuat sebagai shampo yang menghilangkan ketombe.

Di undakan berikutnya adalah persepsi kualitas (perceived quality), yaitu ketika si konsumen sudah mencoba sebuah brand dan merasakan bahwa brand tersebut memiliki kualitas yang unggul. Kalau di undakan-undakan sebelumnya brand equity terbentuk melalui upaya promosi dan komunikasi, maka di undakan ketiga ini konsumen harus sudah mencoba produk. Jadi perceived quality terbentuk di benak konsumen jika si konsumen telah membuktikannya. Toyota misalnya memiliki persepsi kualitas yang kuat untuk mobil. Garuda Indonesia memiliki persepsi kualitas yang kuat untuk service airline. Atau D’Cost memiliki persepsi kualitas yang kuat untuk restoran sea food yang value for money.

Ketika konsumen mencoba brand sekali puas karena kualitasnya yang unggul, maka ia pun kemudian mencoba dua kali, tiga kali, sepuluh kali, puluhan kali, ratusan kali, sampai akhirnya ia tak pernah berpaling ke lain hati. Itu artinya konsumen sudah loyal dan tak pernah mau menggunakan brand lain. Pada posisi undakan ini, brand dikatakan memiliki loyalitas (brand loyalty) yang kuat. Ibu-ibu misalnya, sering bilang kalau naik taxi harus Blue Bird, yang lain tidak. Kenapa? Karena menurut mereka Blue Bird paling aman.

Brand Equity Ladder

Evangelist
Undakan terakhir yang sekaligus menandai puncak kehebatan sebuah brand adalah apa yang saya sebut brand evangelist atau brand advocate. Apa itu? Yaitu suatu posisi dimana konsumen tak hanya sebatas kenal, tak hanya sebatas memiliki persepsi kualitas yang kuat, tak hanya diloyali konsumennya, tapi lebih jauh lagi juga dibela habis-habisan hingga ke titik darah penghabisan oleh si konsumen.

Pada posisi undakan ini, konsumen akan bangga luar biasa jika mengenakan atribut-atribut brand, mereka umumnya fanatik. Konsumen Harley Davidson misalnya, bangga luar biasa saat menggunakan baju kebesaran Harley Davidson (kepala diikat, baju hitam lengan buntung, sepatu boot) atau mentato lengan dan jidatnya dengan logo Harley Davidson. Di samping itu, si konsumen juga menjadi salesman bagi brand tersebut. Ia akan selalu merekomendasikan konsumen lain untuk menggunakan brand tersebut. Customers become the most powerful salesmen.

Tak hanya itu, saking fanatiknya, si konsumen bisa marah besar jika orang lain misalnya, menjelek-jelekkan atau mem-bully brand. Saat Starbucks beberapa tahun lalu mengubah identitas korporatnya dengan menghilangkan kata “Coffee” di dalam logonya, konsumennya di seluruh dunia marah besar. Begitu pula konsumen akan berkabung ketika kebetulan si brand sedang terpuruk atau dirundung kesedihan. Saat Steve Jobs wafat misalnya, konsumen Apple di seluruh penjuru dunia berkabung dan dirundung kesedihan mendalam.

Karena undakan pamungkas ini sangat sulit dicapai oleh sembarang brand, maka di seluruh dunia jumlah brand yang mencapai tahap ini bisa dihitung dengan jari. Brand yang mampu mencapai undakan ini masuk dalam “club of elite” yang posisinya sangat prestisius. Sebut misalnya: Apple, Harley Davidson, Starbuck, Google, Ferrari, dan sebagainya. Ada ciri yang sama dari brand-brand hebat ini, yaitu: konsumen cinta setengah mati; konsumen fanatik setengah mati; dan konsumen adalah evangelist setengah mati, yang membela brand hingga titik darah penghabisan.

Brand KPK
Seperti saya bilang di depan, KPK adalah juga sebuah brand. Dan sebagai sebuah brand, KPK masuk dalam jajaran “club of elite” setara dengan Apple atau Harley Davidson. Kenapa? Karena sebagai sebuah brand, KPK sudah mencapai undakan paripurna, yaitu brand evangelism.

Kita seluruh bangsa Indonesia, sebagai “konsumen” KPK, merasakan begitu krusialnya lembaga ini, sehingga kita galau luar biasa begitu melihat ia dibinasakan oleh kelompok-kelompok yang tak menyukai dan terancam oleh keberadaannya. Ketika skandal “Cicak Buaya” jilid I dan II menerpa, sontak kita marah dengan beragam bentuk ekspresi perlawanan (pendudukan kantor KPK Kuningan, hastag #saveKPK, demo di berbagai kota, dsb). Mendadak sontak kita semua menjadi evangelist KPK.

Kita memiliki ownership luar biasa terhadap KPK karena kita meyakini bahwa lembaga ini mampu mengantarkan bangsa ini menjadi bangsa yang lebih baik dan beradab. Terdapat semacam “emotional connection” antara KPK dengan konsumennya (yaitu seluruh rakyat Indonesia), sehingga timbul kecintaan yang mendalam terhadap brand hebat ini. KPK adalah brand yang dicintai, difanatiki, dibelain oleh kita semua sebagai konsumennya. KPK adalah evangelist brand.

Pelajaran bagi marketers: Anda harus memiliki brand sehebat KPK yang dicintai, difanatiki, dan dibela habis-habisan oleh konsumen.

January 31, 2015   3 Comments

Price War dan Dosa Marketer

Saya sedih setiap kali melihat iklan program diskon besar-besaran yang dibesut oleh mal atau peritel. Kalau program itu dilakukan sesekali (misalnya karena pas Hari Raya atau Hari Kemerdekaan) sih nggak papa, ini dilakukan rutin tiap bulan. Kalau demikian adanya, maka brand-brand yang ada di mal atau peritel tersebut juga rutin memangkas harga.

Saya bukannya anti diskon. Diskon adalah salah satu bentuk sales promotion yang ampuh menarik konsumen. Seperti obat saja, kalau dosisnya pas, diskon bisa menjadi alat ampuh untuk menggaet omset, sekaligus membangun merek (building brand). Namun, jika dosisnya berlebihan bisa membikin celaka. Memang dalam jangka pendek, omset tergaet, namun dalam jangka panjang brand-ya bisa jatuh. Kenapa? Kalau keseringan menggelar diskon, takutnya brand dianggap berkualitas payah, tidak laku, atau dianggap murahan oleh konsumen.

Apa yang terjadi kalau brand Anda sudah terlanjur dipersepsi konsumen sebagai produk murahan? Ingat satu hal ini: kalau sudah dianggap brand murahan, maka untuk naik kelas sulitnya minta ampun. Karena itu saya punya kiat “berdiskon yang sehat”, yaitu program diskon yang tak merusak brand. Kiatnya: Anda boleh berdiskon, tapi jangan sampai brand Anda dianggap murahan.

Kebodohan
Bahaya terbesar berdiskon adalah jika Anda sudah terjerumus dalam destructive game yang disebut perang harga (price war). Kalau sudah terjadi price war maka brand Anda dan pesaing saling salip-menyalip menurunkan harga. Otomatis harga terus tergencet turun. Dan kalau sudah begitu, si pelanggan menjadi “cheer leaders” yang semakin getol memompa semangat pemain dengan meneriakan yel-yel: “How low can you go!!! How low can you go!!!”

Saya sering mengatakan price war adalah kebodohan terbesar seorang marketer. Kenapa bodoh? Karena ia betul-betul bodoh alias tak tahu lagi apa yang harus diperbuat untuk memenangkan pasar. Si marketer sudah tidak tahu lagi bagaimana mendiferensiasi produk. Tak tahu lagi bagaimana produk seharusnya diposisikan di pasar. Tak mampu lagi berinovasi. Tak mempan lagi berkreasi. Semua jalan seperti buntu. Karena sudah tak tahu lagi, jalan gampangnya: turun harga. “Apa sih susahnya turun harga?”

Merupakan sebuah bencana besar ketika seorang marketer terjangkit penyakit mematikan bernama penyakit “buntu pikir” dan “mati kreativitas”, lalu mengambil jalan “sesat”: perang harga. Menjangkitnya penyakit ini kalau dibiarkan akan menyebabkan produk ikut-ikutan terjangkit penyakit mematikan lain bernama “komoditisasi”. Apa itu? Produk menjadi rata-rata, medioker, pas-pasan, tak ada keunikan, tak ada diferensiasi, tak ada brand. Inilah “dosa terbesar” seorang marketer: membawa produk terjerembab ke dalam jebakan komoditisasi.

Membunuh
Coba lihat price war di bisnis telekomunikasi, airlines, atau elektronik. Semua pemain seperti berparade menunjukkan inovasi dan kreativitasnya. Bukan kreativitas dalam membangun diferensiasi, tapi (celakanya) kreativitas membangun persepsi produk paling murah, dengan kualitas produk medioker. Celakanya lagi, mereka membangun persepsi termurah itu sering kali dengan cara mengelabuhi si pelanggan. Misalnya, diskonnya gedhe minta ampun bahkan sampai 70%, tapi setelah diikuti syarat dan ketentuannya, ujung-ujungnya mahal juga. Atau, sebelum diskon diberikan harga dinaikkan setinggi langit. Kalau sudah begini, dosa si marketer menjadi bertumpuk-tumpuk.

Saya tak habis pikir kenapa marketer begitu suka menghanyutkan dirinya dalam kancah price war. Karena begitu si marketer memutuskan memasuki arena price war, maka sesungguhnya saat itu juga si marketer sedang “membunuh” brand secara perlahan tapi sistematis dalam jangka panjang. Memang dalam jangka pendek, turun harga dalam price war merupakan langkah ampuh untuk mendongkrak sales, market share atau bahkan profit. Namun dalam jangka panjang, brand positioning sebagai produk murahan merupakan erosi sistematis terhadap ekuitas merek (brand equity) yang sudah susah payah dibangun bertahun-tahun sebelumnya.

Hai para marketer… Ingat kalimat bijak ini: “Tugas hakiki seorang marketer adalah MEMBANGUN brand, bukan SECARA SISTEMATIS MEMBUNUHNYA… melalui price war”

January 24, 2015   3 Comments

SmartBranding SmartFM: “Startup Branding”

SmartFM 95.9 FM, Senin, 19 Januari 2015, pk 08.00 – 09.00 WIB

Strategi branding untuk perusahaan yang sudah besar dan mapan mah nggak usah ngomong. Brand sudah terbentuk, duit banyak, pelanggan sudah ngumpul. Lha kalau utuk perusahaan baru mulai, ini baru sulit minta ampun. Gimana nggak sulit? Brand sama sekali tidak dikenal, pelanggan zero, duit juga cekak. So what?

Memang sulit minta ampun. Tapi bukannya tidak bisa. Sebagai startup entrepreneur Anda perlu muter otak lebih kenceng dan butuh trik-trik khusus. Tentu saja Anda tak akan mampu pasang TVC. Anda pasti juga tak punya duit untuk bikin event yang menguras isi kantong. Tapi jangan kecil hati, sekarang eranya Twitter, YouTube, dan Instagram. Sekarang eranya blogging. Anda bisa pakai tools yang low budget, high impact tersebut untuk mengerek startup brand Anda.

Saya @yuswohady dan Silih Agung Wasesa @silih akan mengupasnya dalam radio talkshow “SmartBranding” di SmartFM dengan tema “Startup Branding”. Sebagai bintang tamu sekaligus case saya akan mengundang Talita Natalia, Creative Director KLAR, startup accessories brand yang cool abis.

Klar

Klar Accessories Brand

Pantengin talkshow SmartBranding, hari Senin pagi, 19 Januari 2015, pukul 8-9 hanya di SmartFM 95.9 FM. Agar ndengerinnya khusuk, cek link-link berikut ini dulu ya. Great!

KLAR di The Jakarta Globe

Klar di Style.com

Klar di Koran Jakarta

 

January 18, 2015   No Comments

Instagram Means Business

Hari Jumat (16/1) kemarin saya diundang oleh NET TV untuk menjadi nara sumber di program pagi Indonesia Morning Show @IMS_NET. Di situ saya diminta untuk mengomentari, dari sudut pandang marketing tentu, sepang-terjang seorang kreatif Dade Akbar pemilik akun Instagram @warteg_gourmet. Dade membuka akun @warteg-gourmet Oktober tahun lalu. Seseorang membuka akun Instagram tentulah biasa, namun ide di balik akun Instagram Dade begitu luar biasa.

Luar biasa, melalui akun tersebut Dade berupaya untuk “mengentaskan” warteg dari citra kepapaan. Kita tahu warteg alias warung Tegal identik dengan makanan untuk kaum kelas kambing. Tapi oleh Dade warteg coba dilambungkan setinggi langit menjadi sebuah “fine art of food” yang bergengsi. Warteg disulap menjadi “haute cuisine” yang berkelas. Kalau di dunia fesyen ada “adibusana”, sebut saja ini “adiboga” bintang lima.

Caranya gimana? Melalui foto-foto indah di Instagram Dade mencoba menyajikan menu-menu warteg dalam wajah gourmet yang mewah dan estetis. Di tangan Dade menu-menu warteg dari tempe goreng, telur dadar, hingga krupuk kampung di tata dengan sentuhan culinary art yang ciamik. Walhasil, banyak warga netizen kepincut pada olahan ide Warteg Gourmet dan Dade pun kebanjiran pesanan. Saat saya tanya rencananya, Dade mengaku kini sedang mempersiapkan segala sesuatunya agar hobi dan passion-nya itu berubah menjadi sebuah bisnis besar yang menguntungkan.

Mengamati sepak-terjang Dade merintis bisnis di Instagram, ada satu pertanyaan kunci yang menarik untuk ditemukan jawabannya: Bagaimana Anda mengumpulkan massa netizen dalam jumlah besar dan kemudian memberdayakan mereka untuk mempromosikan bisnis yang kini Anda rintis. Inilah pertanyaan terpenting ketika Anda mau berbisnis di Instagram. Saya punya tiga jawaban yang mudah-mudahan bisa menginspirasi para Instagrampreneur.

Ini dia videonya: Indonesia Morning Show – NET TV

Cool
Pertama, bisnis Anda harus memiliki cool factor. Hanya jika bisnis Anda cool, maka ia akan seru dibicarakan oleh netizen. Kalau bisnis Anda boring, maka siapapun tak akan memedulikannya. Kenapa Warteg Gourmet cool? Dari namanya saja kita sudah bisa mengendus cool factor dari Warteg Gourmet. Kalau nama akun “Warteg” saja atau “Gourmet” saja mah biasa. Tapi kalau dua nama yang berseberangan 180 derajat itu dipersatukan, itu baru luar biasa.

Cool factor Warteg Gourmet terletak pada big idea di balik brand ini, yaitu mengangkat citra warteg setinggi langit dengan menyajikannya setara dengan sajian kuliner hotel bintang lima. Warteg yang biasanya hadir di warung-warung pojok pasar Inpres, dikonsumsi sopir taksi dan kuli bangunan, kini disajikan dalam tampilan gourmet yang layak dicicipi kalangan atas nan tajir. Cool factor dari Warteg Gourmet terletak pada kebaruan dan keotentikan ide, kepedulian pada kuliner lokal, dan kreatifitas yang menentang arus.

Warteg Gourmet

Story
Warteg Gourmet juga sarat dengan brand story. Itulah yang menjadikan netizen demikian penasaran dan begitu senang hati memperbincangkannya. Apa saja cerita-cerita yang mengitari Warteg Gourmet? Bisa cerita mengenai passion Dade dalam memberikan sentuhan estetik terhadap menu warteg yang ia sajikan. Bisa cerita mengenai kepedulian seorang anak negeri terhadap kuliner lokal yang kian terpinggirkan oleh dominasi kuliner global macam McD atau KFC. Bisa juga cerita mengenai proses kreatif Warteg Gourmet dalam menamai kreasi-kreasinya (Menu tempe goreng dengan tumis brokoli misalnya, diberi nama seksi: “deep fried flat bed bean curd topped with stir fried chilli squid and steamed broccoli finished with droplets of chilli squid oil’’).

Ingat, stories create emotions, engagement, and involvement. Stories are connecting people. Cerita menciptakan emosi mengharu-biru. Cerita bisa memicu interaksi dan keterlibatan audiens yang intens. Dan yang terpenting, cerita menjadikan sesama kita saling terkoneksi satu sama lain. Karena itu jika Anda berbisnis di Instagram pilihannya cuma satu: Anda harus menjadi “master storyteller”.

Indonesia Morning Show - Warteg Gourmet

Crowd
Sehebat apapun cool factor dan story yang dimiliki brand tak akan berarti apa-apa jika Anda tak memiliki massa netizen yang siap berjibaku menggulirkan viral positif mengenai brand Anda. Siapa massa netizen dari Warteg Gourmet? Siapapun! Ya, karena siapapun kita pasti passionate kalau membicarakan masalah makanan dan urusan isi-mengisi perut. So, dalam urusan crowd alias komunitas massa netizen Warteg Gourmet mendapatkan kemewahan luar biasa, karena ada di mana-mana. They are already there.

Warteg Gourmet tahu persis bahwa Instagram merupakan medium yang sangat ampuh untuk menggulirkan viral perbincangan di kalangan para foodies. Kenapa? Karena medium gambar memang jauh lebih engaging dan lebih shareable dibanding kata-kata. Foto-foto menu yang estetik dan mengundang selera merupakan sasaran empuk bagi para foodies untuk mempergunjingkannya.

Melihat kasus Warteg Gourmet, kita jadi sadar bahwa Instagram memberikan kita peluang luar biasa untuk merintis dan membangun bisnis. Mencermati sepang-terjang Dade Akbar, kita jadi sadar bahwa sesuatu yang awalnya sebatas keisengan, rupanya bisa berujung menjadi bisnis yang luar biasa menguntungkan. Kita jadi sadar bahwa: “Instagram means business.”

Sebuah kebodohan luar biasa jika kita hanya menjadikan akun Instagram sebagai medium untuk menggosip, narsis, dan urusan remeh-temeh yang lain. Mulai detik ini juga Anda harus memutar otak untuk menjadikan Instagram sebagai mesin uang Anda. Jangan mau kalah: kalau Warteg Gourmet bisa, kenapa Anda nggak bisa. Selamat mencoba.

 

January 17, 2015   3 Comments