E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal

Random header image... Refresh for more!

Nobar + Ngobrolin “Filosofi Kopi” Yuk…

“Filosofi Kopi tak sekedar film, ia adalah sebuah movement” begitu kata Handoko Hendroyono, penggagas dan produser film Filosofi Kopi yang saat ini sedang tayang di bioskop tanah air. Filosofi Kopi adalah sebuah gerakan untuk mengingatkan setiap anak negeri bahawa bangsa ini adalah kampiun kopi dunia. Kita negara kaya akan kopi mulai dari kopi Luwak, Toraja, Gayo, Wamena, hingga kopi Kintamani, yang harus dilestarikan dan dikembangkan menjadi tuan rumah di negeri sendiri bahkan melanglang buana ke seluruh dunia. Indonesia harus menjadi “super power” kopi dunia.

Filosofi Kopi adalah sebuah “platform” bagi setiap upaya memajukan kopi lokal Indonesia agar tampil melambung di kancah dunia. Sebagai sebuah platform di dalamnya ada film, buku, dan games sebagai media sosialisasi, ada kedai “Filosofi Kopi” sebagai community hub, ada seminar dan workshop sebagai ajang pendidikan, ada pemberdayaan petani kopi, dan segudang kegiatan lain yang idenya bakal diperoleh melalui crowdsourcing.

Filosofi Kopi

Nah, Komunitas Memberi (memberi.org) ngajak temen-temen untuk nobar sekaligus ngobrolin ide besar ini langsung dengan sang penggagas mas Handoko. Melalui obrolan ini diharapkan akan muncul ide dan inisiatif besar untuk melambungkan kopi lokal Indonesia. Namanya juga ngobrol, kita santai-santai aja tapi tetap berisi. Acaranya digelar pada:

Hari/Tanggal: Selasa, 21 April 2015
Waktu: Nobar pk 17.00 WIB; ngobrol 19.00 WIB
Tempat: Nobar di Bioskop XXI Blok M Square; ngobrol di Kedai “Filosofi Kopi”, Jl. Melawai V

Narasumber:
Handoko Hendroyono, Penggaas dan produser “Filosofi Kopi”
Ricky Afrianto, Direktur Mayora
Yuswohady (Moderator)

Yuk ikutan!!! Anyway, nobarnya bayar sendiri-sendiri ya… hehehe…

April 20, 2015   No Comments

Duta Bangsa

Tanggal 20 Mei nanti, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, untuk kedua kalinya saya akan menggelar event akbar Indonesia Brand Forum (IBF) 2015. Kalau IBF pertama tahun 2013 lalu mengambil tema “Merek Indonesia Menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri”, maka IBF 2015 akan mengusung tema “Merek Indonesia Perkasa di Pentas Dunia”. Sementara tagline yang diambil IBF selalu sama dari tahun ke tahun yaitu: “Kebangkitan Nasional Kedua, Kebangkitan Merek Indonesia”.

Di IBF yang pertama saya berupaya mengingatkan bangsa ini bahwa pasar domestik memiliki potensi yang luar biasa dengan 250 juta konsumen. Karena itu brand lokal Indonesia harus bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri dengan cara menaklukkan brand-brand global yang kini menguasai bumi pertiwi. Kini, di IBF kedua saya ingin mengingatkan bahwa untuk mencapai world’s best practice, brand lokal harus menggembleng diri menjadi Global Chaser. Global Chaser adalah istilah saya untuk menyebut brand-brand lokal yang sukses menembus pasar internasional dan pawai membangun daya saing global.

Logo IBF

Selama setahun ini saya melakukan riset intensif untuk mengidentifikasi perusahaan-perusahaan Global Chasers yang memiliki prestasi membanggakan. Saya mewawancarai para CEO dan jajaran eksekutif perusahaan-perusahaan ini untuk mendapatkan gambaran bagaimana sepak-terjang mereka menembus pasar global. Hasilnya, cerita-cerita menarik dan strategi ampuh mereka untuk menjadi perusahaan kelas dunia yang kemudian saya rangkum dalam buku baru Global Chaser: Merek Indonesia Perkasa di Pentas Dunia yang akan saya luncurkan di situ. Dan sekitar 30 Global Chaser brands hasil riset saya tersebut akan tampil sharing di IBF 2015.

Sebelum bukunya terbit, saya ingin memberikan bocoran beberapa global chaser merah putih yang memiliki prestasi membanggakan dan bisa menjadi inspirasi bagi perusahaan nasional lain. Berikut ini beberapa diantaranya.

Mayora memiliki brand-brand ampuh seperti Kopiko, Torabika, Astor, Danisa, atau Beng Beng yang menjamah banyak negara. Kopiko misalnya, tak hanya menguasai pasar permen kopi nasional tapi juga menjadi pemimpin pasar di Filipina, Tiongkok, dan Polandia. Mayora pantas disebut perusahaan global mengingat porsi pendapatan dari pasar luar negeri hampir mencapai 40% dari total omset.

Kalbe adalah pemain lain yang berpotensi menjadi “juara MEA” alias memimpin pasar Asean (Masyarakat Ekonomi Asean) dengan brand-brand hebat kebanggaan bangsa seperti, Deabetasol yang menjadi pemain utama di Filipina dan Myanmar, Extra Joss yang menguasai pasar Filipina, Mixagrip yang perkasa di Nigeria, atau Woods, Milna, Prenagen, dan Morinaga. Seperti halnya Mayora, Kalbe layak menyandang pemain global/regional. “Karena setiap kali mengeluarkan brand baru, dari awal kami selalu berpikir bahwa brand tersebut dipasarkan di tingkat global terutama Asean, jadi bukan hanya untuk pasar Indonesia,” ujar Diny Elvirani, salah satu manajer yang menangani pasar luar negeri.

MAK (Mega Andalan Kalasan), produsen ranjang rumah sakit dan medical equipment asal Kalasan Yogyakarta adalah “the truly global champion”. Kualitas produk, teknologi, dan peralatan produksi yang digunakan merupakan salah-satu yang terbaik di dunia. Saat berkunjung ke failitas workshop-nya tahun lalu saya terpukau luar biasa, di tengah keheningan desa Kalasan terdapat sebuah science park yang modern, berteknologi tinggi, dan berkualifikasi kelas dunia. “Kini kami sedang melakukan joint R&D dengan Jepang untuk menghasilkan produk yang kami pesarkan bersama ke seluruh dunia,” ujar Buntoro sang perintis. Yang membanggakan, kini MAK merupakan pemain sepuluh besar dunia.

Indofood memiliki flagship product Indomie, yang tak hanya dominan di dalam negeri tapi juga perkasa di pasar mancanegara. Rasa Indomie memang ngangenin, itu sebabnya warga kita yang bermukim di luar negeri mrindukan makan Indomie. Ini merupakan promosi word of mouth luar biasa yang menjadikan brand Indomie kuat di bertbagai negara. Tapi Indomie tak hanya populer di kalangan konsumen Indonesia di luar negeri. Di Nigeria misalnya, brand ini juga begitu kokoh dan sangat populer di kalangan warganegaranya. Seorang teman eksekutif pemasaran yang rutin mengunjungi Nigeria mengungkapkan cerita lucu. Ujar si teman, ada seorang warga Nigeria berkunjung ke Jakarta dan mendapati Indomie di sebuah supermarket. “Lho Indomie kan bikinan asli Nigeria, kok ada di sini,” seloroh si warga Nigeria spontan.

Inaco, produsen nata de coco kebanggaan Indonesia, menembus pasar Jepang secara berkelok-kelok dengan cara merintis pasar Taiwan terlebih dahulu. Diawali dengan memenuhi permintaan mitra kerja di Taiwan, Inaco menempa diri membangun kualitas. Begitu yakin telah mencapai global quality excellence dengan sigap ia pun masuk pasar Jepang yang dikenal memiliki standar kualitas amat tinggi untuk produk-produk impor yang masuk ke pasar Jepang. Melalui kerja keras belasan tahun akhirnya kini Inaco mampu mencapai sukses membangakan. “Kami bisa menguasai sekitar 60% pangsa pasar nata de coco di Jepang,” ujar Erijanto, salah satu pendiri Inaco.

Polygon tak mau kalah. Setelah sebelumnya menjadi “aktor utama” di balik merek-merek top dunia seperti Scott, Kuwahara, Mustang, Avanti, Kona, atau Marine melalui skema OEM (original equipment manufacturing), kini Polygon mulai membangun mereknya sendiri. Tak hanya menarget pasar dalam negeri, Polygon langsung ekspansif menggarap pasar-pasar di negara-negara maju Eropa dan Amerika dengan berpromosi dan membangun jaringan distribusi. Kini misalnya, Polygon sedang agresif menggarap pasar-pasar tersulit seperti Jerman, Perancis, dan Amerika.

Pertamina Pelumas agresif melakukan ekspansi global sejak lima tahun terakhir dengan masuk di pasar-pasar Asia, Afrika, Eropa, Amerika, dan Australia. Inisiatif terakhir Pertamina Pelumas cukup membanggakan dengan menggandeng brand top dunia Lamborgini. Melalui kemitraan tersebut Fastron menjadi pelumas resmi mobil balap Lamborghini selama lima tahun ke depan. Hingga tahun 2019 mobil-mobil Lamborghini akan menggunakan Fastron dalam balapan Super Trafeo (18 seri per tahun) dan balapan GT 3 (5 seri).

Saya angkat topi kepada brand-brand nasional hebat di atas yang berkontribusi luar biasa dalam mengharumkan nama bangsa di kancah dunia. Dulu sebelum ada Sony, bangsa Jepang dilecehkan negara Barat karena dianggap sebagai bangsa yang hanya mampu membikin produk dan brand kelas kambing. Tapi berkat perjuangan Akio Morita, sang perintis, persepsi negatif itu dijungkir-balikkan. Begitu pula sebelum ada Samsung-Hyundai, Korea Selatan dianggap sebagai bangsa kelas teri. Tapi kehadiran kedua brand hebat tersebut menjadikan Korea sebagai bangsa kelas satu dengan produk dan brand kelas satu.

Saya terus berdoa agar brand-brand anak negeri di atas menjadi “the next Sony” atau “the next Samsung” bagi bangsa Indonesia. Brand-brand tersebut adalah duta bangsa. Duta yang telah mengharumkan nama bangsa di pentas dunia. Viva brand Indonesia!!!

April 18, 2015   No Comments

IBF

20 Mei nanti di gedung Balai Kartini Jakarta, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional saya akan menggelar event konferensi besar dua tahunan Indonesia Brand Forum (IBF) 2015. Tagline yang selalu saya usung di event tersebut adalah “Kebangkitan Nasional Kedua, Kebangkitan Merek Indonesia”. Ya, karena melalui event tersebut saya ingin membangunkan bangsa ini betapa pentingnya brand untuk membangun kemandirian ekonomi bangsa. Melalui tagline tersebut saya ingin mengingatkan bangsa ini bahwa 20 Mei tak hanya kita peringati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, tapi juga hari kebangkitan brand nasional untuk bersaing dengan brand-brand global di pasar Indonesia maupun dunia.

Kita jangan cuma menjadi “bangsa komoditi” yang bisanya cuma mengekspor minyak mentah, batubara, karet mentah, biji kopi, atau TKI. Kita harus menjadi “bangsa brand” yang mampu menghasilkan brand kopi (contohnya Kapal Api), brand gula (contohnya Gulaku), brand kacang (contohnya Kacang Garuda), brand warung Padang (contohnya RM Sederhana), atau brand batik (contohnya Batik Keris). Dengan brand bangsa ini akan menjadi bangsa besar. Ingat, salah satu ciri negara besar di dunia adalah, mereka memiliki brand-brand hebat. Amerika punya Apple, Coca Cola, atau McDonalds. Jepang punya Toyota, Sony, atau Canon. Jerman punya BMW, Mercedes Benz, atau VW.

Logo IBF

Perkasa di Pentas Dunia
Tahun ini tema yang saya ambil untuk IBF 2015 adalah “Global Chaser: Merek Indonesia Perkasa di Pentas Dunia”. Intinya, konferensi ini menampilkan perusahaan-perusahaan lokal karya anak bangsa yang mampu membangun brand di pasar global. Setidaknya ada sekitar 25 brand lokal yang akan sharing mengenai bagaimana mereka membangun strategi untuk masuk, menciptakan daya saing, dan membangun brand di pasar global.

Jangan dikira masuk ke pasar global itu gampang. Pertama, kondisi dan karakteristik pasar luar negeri itu tidak banyak kita ketahui. Kalau pasar Indonesia dari Sabang sampai Merauke mah gampang karena kita tahu karakteristik, perilaku, dan budaya konsumennya. Coba kalau pasar Cina, Amerika, atau Nigeria, pengetahuan kita nol besar. Butuh jam terbang dan pengalaman panjang untuk memahaminya. Kedua, pemerintah di negara yang kita target cenderung protektif dan menghalangi setiap pemain asing yang masuk. Cina misalnya, dikenal getol melindungi industri dalam negeri dengan menggunakan segala cara.

Namun di tengah tantangan yang maha berat, masih ada segelintir brand yang begitu membanggakan, menjadi “duta bangsa” di pasar global. Sebut saja Biofarma yang memasarkan produk vaksin-nya di 120 negara. Ada Inaco yang produk nata de coco nya menguasai 60% pasar Jepang. Ada Polygon asal Sidoarjo yang produk sepedanya merambah pasar Eropa dan Amerika ketat bersaing dengan brand-brand kelas satu dunia. Ada MAK, produsen ranjang rumah sakit canggih asal Kalasan Yogyakarta, yang masuk 10 besar dunia. Ada juga ABN, produsen alat tensi jantung asal Padalarang Bandung yang produknya merambah lima benua.

Pembelajaran
Di samping untuk membangkitkan kesadaran anak negeri mengenai pentingnya membangun brand berkelas dunia, IBF juga menjadi ajang pembelajaran bagi brand-brand lokal yang berniat menembus pasar global. Selama setahun terakhir saya melakukan riset untuk mengidentifikasi brand-brand lokal yang punya prestasi luar biasa di pentas dunia. Saya menyebut mereka: “global chaser”. Dari “perburuan” selama setahun tersebut saya menemukan sekitar 30 global chasers yang patut dibanggakan. Sebagian besar brand-brand hebat tersebut akan “dipentaskan” di IBF 2015. Saya juga akan menuliskan bukunya dan akan diluncurkan di situ.

Salah satu brand yang menjadi favorit saya adalah ABN. Saya berani pastikan, Anda pasti tak pernah mendengar nama ABN karena memang tak pernah muncul di koran, billboard atau iklan TV. Padahal brand alat tensi jantung (sphygmomanometer) hebat ini begitu perkasa menjelajah pasar di lima benua. Dua minggu lalu saya ketemu pak Ade Tarya Hidayat, sang perintis, di kantor pusat sekaligus pabriknya di desa Cipeundeuy, Padalarang. Cerita pak Ade menembus pasar global begitu mengharu-biru, penuh onak berduri. Perjuangan pak Ade selama 25 tahun menembus pasar global patut mendapatkan apresiasi.

Pak Ade memulai bisnisnya sebagai distributor alat kesehatan yang sebagian besar diimpor. Bisnis pak Ade babak belur dihantam devaluasi rupiah tahun 1983 dan 1986. Di tengah bisnis yang hancur-lebur pak Ade berpikir mengubah haluan bisnisnya dengan balik mengekspor. “Jadi bisnis ekspor saya ini karena kepepet,” ujarnya. Maka dipilihlah alat tensi jantung karena bahan dasar utamanya, yaitu karet, begitu berlimpah tersedia di tanah air.

Ekspansi ABN ke pasar global dimulai dengan memproduksi dan memasarkan produk tanpa merek alias OEM (original equipment manufacturing). “Merek-merek alat tensi jantung nomor satu di dunia seperti Riester dan Baum itu bikinan saya,” ujarnya bangga. Tak puas menjadi OEM, ABN pun kemudian membuat sendiri brand-nya dan kini telah menjelajah pasar-pasar utama dunia di Eropa, Amerika, Asia, Afrika, dan Amerika Latin. “Kini saya sedang serius menggarap pasar Brasil dan India yang sangat prospektif,” ujarnya.

Jerih payah pak Ade Tarya merintis dan membangun brand global haruslah diketahui oleh para entrepreneur kita. Dengan demikian pelajaran-pelajaran berharga yang ada di dalamnya bisa menginspirasi mereka untuk melakukan hal yang sama. Dengan begitu akan lahir “Ade Tarya – Ade Tarya lain” dalam jumlah massal. Itulah alasan kenapa IBF dibesut. Sampai ketemu di IBF 2015, 20 Mei mendatang, pas Hari Kebangkitan Nasional.

April 11, 2015   1 Comment

Panca Sila Juara MEA

Judul di atas merupakan judul yang saya ambil untuk presentasi saya di gelaran Pesta Wirausaha 2015 yang berlangsung Jumat ini (3/4) di kompleks Taman Mini Indonesia Indah. Saya sangat bersemangat hadir di Pesta Wirausaha tahun ini karena teman-teman Komunitas Tangan Di Atas (TDA) sebagai penyelenggara mengangkat tema: “Indonesia Juara MEA” yang merupakan concern saya selama lima tahun terakhir.

Selama sekitar lima tahun terakhir saya banyak menulis kolom, menerbitkan buku (Beat the Giant, 2013), menggagas konferensi (Indonesia Brand Forum, pertama kali tahun 2013, dan berikutnya 20 Mei 2015 mendatang), juga menginisiasi movement dan komunitas (Komunitas Memberi) dengan misi tunggal, yaitu menciptakan awareness mengenai pentingnya brand lokal memiliki kemampuan sejajar dengan pemain-pemain global. Salah satu sektor yang menjadi bidikan saya adalah bisnis kecil dan menengah (UKM). Dalam konteks ASEAN, sebagai negara dengan ekonomi terbesar, seharusnyalah pelaku UKM kita menjadi juara di era MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN).

Nah, untuk sharing di Pesta Wirausaha tahun ini secara khusus saya melakukan kajian untuk merumuskan strategi yang bisa diambil brand lokal (khususnya UKM) untuk bisa menjadi juara MEA. Strategi itu saya beri nama “Panca Sila Juara MEA”. Sesuai namanya, strategi ini mencakup lima pilihan. Mari kita urai satu-persatu.

Pesta Wirausaha 2015

Sila #1: Use local advantages to kick the competitions
Saya menyebut pemain UKM yang menjalankan strategi ini sebagai: Local Champion. Di sini UKM kita harus cerdas memanfaatkan keunikan lokal untuk memenangkan persaingan. Keunikan lokal tersebut bisa berbentuk pemahaman yang mendalam terhadap pasar dan konsumen lokal, penggunaan bahan-bahan lokal, pemanfaatan tradisi dan kearifan lokal, atau bisa juga hubungan (relationship) dengan partner dan stakeholders lokal.

Pemain seperti Dian Pelangi membangun keunggulan bersaing dengan membangun keunikan lokal melalui pemahaman mendalam terhadap pasar muslim di Indonesia. Restoran Ny. Suharti atau Mbok Berek membangun keunikan lokal dengan menggunakan bahan dan resep masakan lokal. Dengan mengusung tagline “Kopi Asli Indonesia”, Anomali membangun keunikan lokal dengan memanfaatkan kekayaan kopi Indonesia yang dikenal terenak di dunia.

Sila #2: Create local innovation to make competition irrelevant
Saya menyebut pemain yang menjalankan strategi ini sebagai: Creative Master. Mereka adalah pemain-peman yang kreatif abis, memanfaatkan inovasi untuk bisa menghindari persaingan dan menciptakan pasar-pasar baru yang minim persaingan (blue ocean market). Umumnya pemain jenis ini tak memiliki keunikan lokal, karena itu ia terpaksa harus putar otak untuk menciptakan diferensiasi yang kokoh dan punya nilai jual di pasar global.

Radio Magno besutan Singgih Kartono adalah contoh ideal dari Creative Master. Radio Magno adalah radio kayu berkelas dunia yang sarat inovasi dan kreativitas. Disainnya yang apik dan finishing-nya yang ciamik menjadikan produk yang dibikin di desa Kandangan, Temanggung ini digandrungi konsumen Jepang, Eropa, dan Amerika. Tak hanya itu, Radio Magno dibikin dengan spirit kepedulian yang luar biasa (pemberdayaan masyarakat desa, solusi sosial, penanaman kembali terhadap pohon yang ditebang, dsb). Karena itu ia memiliki brand story kuat, yang menjadikannya berharga premium.

Sila #3: Boost Excellence to Beat the Giant
Saya menyebut pemain yang menjalankan strategi ini sebagai Quality Challenger. Kenapa? Karena mereka berupaya habis-habisan mendongkrak kualitas (quality excellence) untuk mengalahkan pesaing. Kalau Creative Master banyak mengandalkan inovasi dan kreativitas, maka Quality Challenger lebih mengandalkan keutamaan kualitas produk dan layanan yang didapat melalui perbaikan secara terus-menerus (continuous improvement).

Eiger adalah contoh rangkaian produk apparel yang mewakili Quality Challenger. Pengalaman panjang memproduksi produk-produk apparel mulai dari tas, sepatu, jaket, T-shirt, hingga jam tangan, menjadikannya mencapai kualitas prima tak hanya di tingkat lokal tapi juga global. Berbeda dengan Creative Master, pemain jenis ini umumnya mencapai kesuksesan dengan membangun brand dalam kurun waktu panjang. Selama bertahun-tahun (bahkan puluhan tahun) mereka menempa kualitas, sehingga tak tertandingi (stand-out) oleh pesaing manapun.

Sila #4: Build Bigness through Mass Partnership
Saya menyebut pemain yang menggunakan strategi ini sebagai Longtail Collaborator. Kata Longtail saya ambil dari Chris Andersen, yaitu pemain-pemain kecil yang bermain di pasar ceruk (niche). Kalau pemain-pemain kecil ini dihimpun menjadi satu kesatuan, maka mereka akan memiliki kekuatan yang luar biasa. Pemain UKM akan mampu menjadi besar dan mencapai skala ekonomi jika mereka bisa saling berkolaborasi dan menghimpun kekuatan bersama. Prinsipnya, sesama UKM haruslah bersatu-padu membangun kemitraan untuk bisa menjadi besar.

Pusat Grosir Batik Trusmi di Cirebeon yang dirintis oleh suami-istri Ibnu Riyanto dan Sally Giovanny membangun bigness dengan cara memberdayakan para pembatik lokal di desa Trusmi. Mereka menciptakan kemitraan dengan sekitar 400 pembatik lokal (dengan menyediakan bahan, memberikan bimbingan disain dan kualitas, hingga membelinya) untuk menghasilkan batik berkualitas global. Melalui kemitraan dan penghimpunan kekuatan tersebut Batik Trusmi memiliki “otot” untuk bersaing dengan pemain-pemain besar.

Sila #5: Achieve Global Best Practices to Win Foreign Market
Saya menyebut pemain yang menggunakan strategi ini sebagai: Global Chaser. Pemain jenis ini istimewa, karena fokus strategi mereka adalah masuk ke pasar luar negeri khususnya ASEAN. Untuk bisa masuk ke pasar luar negeri, maka mereka harus berupaya membangun kemampuan global. Itu artinya mereka harus unggul dalam hal modal, teknologi, manajemen, dan SDM yang berstandar dunia. Atau dengan kata lain, mereka harus masuk dalam jajaran pemain terbaik dunia (global best practices). Ini adalah strategi yang paling sulit.

Niluh Djelantik adalah brand sepatu high-heels premium asal Bali yang sukses menjadi Global Chaser. Sepatu Niluh Djelantik melanglang-buana di lebih dari 20 negara di Eropa dan Amerika. Sepatu kebanggaan Indonesia ini bahkan menjadi idaman para selebritas top dunia seperti Julia Robert dan Uma Thurman. Bagaimana Niluh Djelantik mencapai global best practices? Pertama, kualitas tanpa kompromi. Kedua, craftmanship melalui sentuhan tangan-tangan terampil khas Bali. Ketiga, eksklusivitas karya yang menjadikannya unik dan high-end.

Yuk UKM Indonesia tetapkan niatmu. Pilihlah opsi Panca Sila yang pas. Fokuslah di situ. Janganlah puas menjadi pemain kambing. Berjuanglah habis-habisan untuk menjadi juara MEA. Indonesia harus menjadi juara MEA!!!

April 2, 2015   1 Comment

The Batik Lady

Sally Giovanny memulai bisnis batiknya dengan modal yang diperoleh dari amplop pemberian tamu saat pernikahan dengan suami tercinta Ibnu Riyanto tahun 2006. Waktu itu mereka nikah muda di usia 17 tahun. Dengan “modal amplop nikah” tersebut mereka memulai usaha dengan menjadi suplier kain mori, bahan baku batik. “Uang yang terkumpul sekitar 17 juta, itulah modal awal saya,” ujar Mbak Sally saat bareng saya mengisi acara Indonesia Morning Show NET TV hari Jumat (27/3) pagi lalu.

Sally Giovanny - IMS NET TV

Awalnya memang tertatih-tatih karena memang saat itu batik adalah komoditas kelas kambing belum semencorong sekarang. Dua tahun pertama adalah masa-masa yang berat bagi pasangan muda ini dalam merintis bisnis. Namun, seiring booming batik di tanah air menyusul ditetapkan UNESCO sebagai warisan dunia, bisnis mbak Sally pelan tapi pasti mulai mencorong. Doa tiap malam dan kerja keras membanting tulang pasangan muda ini kemudian membuahkan hasil.

Dengan mengusung identitas batik Trusmi yang menjadi warisan budaya khas Cirebon, kini bisnis batik mbak Sally melesat bak meteor. Kini ia memiliki Pusat Grosir Batik Trusmi yang merupakan ruang pamer batik terbesar di tanah air dengan luas mencapai 1,5 hektar. Di tahun 2013 mbak Sally bahkan mendapatkaan rekor MURI sebagai pusat grosir batik terbesar di seantero tanah air. Mbak Sally juga memperluas gerainya hingga ke kota-kota besar lain seperti Jakarta, Medan, dan Surabaya. Bahkan batik mbak Sally telah menembus pasar global. “Kami sudah ekspor batik Trusmi ke New York, Australia, dan Hungaria,” ujarnya.

Konsep “3 in 1”
Dari sisi marketing dan branding, model bisnis yang dikembangkan mbak Sally luar biasa unik, sehingga menarik untuk dikritisi. Sukses model bisnis ini ditopang oleh tiga faktor yang dirangkai menjadi satu kesatuan konsep yang solid. Itu sebabnya saya namakan konsep “3 in 1”. Faktor pertama adalah pusat grosir batik yang mengusung konsep “one stop shopping experience” dengan mengandalkan kenyamanan (convenience), kelengkapan produk (veriety), dan harga yang terjangkau (value price) melalui pola grosiran.

Faktor kedua adalah apa yang saya sebut konsep “tourism destination branding”. Mbak Sally menempatkan toko grosirnya tak hanya sebagai tempat belanja, tapi juga sebagai sebuah destinasi wisata utama kota Cirebon. Tempat ini menjadi signature destination bagi kota Cirebon: “Belum afdol Anda ke kota Cirebon kalau belum mampir ke Pusat Grosir Batik Trusmi.” Berbagai atraksi wisata disiapkan di situ mulai dari: pusat oleh-oleh, beragam kuliner khas Cirebon, sport center, hingga wahana belajar membatik bagi pengunjung.

Faktor ketiga adalah pemberdayaan masyarakat melalui kemitraan dengan para pembatik desa Trusmi. Di Pusat Grosir Batik Trusmi, mbak Sally menampung sekitar 400 pembatik lokal untuk menghasilkan batik-batik berkualitas di bawah bimbingannya. “Saya menyediakan kainnya, membimbing mereka, dan kemudian membelinya,” ujarnya. Mbak Sally membimbing para pengrajin batik dari sisi teknis, kualitas, dan disain untuk menghasilkan karya batik yang memenuhi standar kualitas yang ia persyaratkan. Walaupun begitu, ia tetap membebaskan pembatik yang ingin berkreasi sendiri.

Model bisnis yang dikembangkan mbak Sally cerdas karena menggabungkan pengalaman berbelanja yang menyenangkan dan destinasi wisata yang berbasis kearifan lokal. Tak heran jika Pusat Grosir Batik Trusmi menjadi magnet yang ampuh menarik wisatawan dalam dan luar negeri. Model bisnis yang dibesut mbak Sally juga mulia karena memberdayakan para pembatik gurem lokal sehingga mereka mandiri dan sejahtera. Ini adalah sebuah kemitraan yang indah dan mulia, dimana si kecil dan lemah diayomi oleh yang besar.

Model Industri Kreatif
Mengamati model bisnis yang dikembangkan mbak Sally, rasa ingin tahu saya membuncah. Saya melihat, formula sukses mbak Sally bisa menjadi model bagi para wirausahawan industri kreatif di seluruh tanah air. Kenapa begitu? Karena model bisnis berkonsep “3 in 1” tersebut bisa dijalankan untuk produk-produk lain berbasis kerajinan (craftmanship) selain batik seperti: produk fesyen, ukiran, kuliner, boneka dan mainan anak-anak, asesoris, seni patung, seni kriya/gerabah, dan lain-lain. Perlu diingat Indonesia adalah salah satu dari sedikit negara yang memliki kemampuan craftmanship terbaik di dunia.

Saya membayangkan konsep “3 in 1” mbak Sally bisa dikembangkan di kota atau kabupaten lain di seluruh tanah air. Masing-masing kota/kabupaten ini bisa mengembangkan satu produk kerajinan yang menjadi signature product bagi kota/kabupaten tersebut. Kemudian pemasaran signature product itu dilakukan di suatu kawasan tertentu (seperti konsep Pusat Grosir Batik Trusmi) yang diposisikan sebagai destinasi wisata khas kota/kabupaten tersebut.

Coba bayangkan, kalau lebih dari 400 kota/kabupaten di negeri ini memiliki satu signature product dan kemudian dikelola dengan konsep “3 in 1” ala mbak Sally, maka negeri ini akan indah sekali. Ya, karena kita akan memiliki ratusan destinasi wisata luar biasa yang menjadi magnet turis domestik maupun mancanegara. Dengan begitu target Kemenpar 20 juta wisman tahun 2019 mestinya tak sulit diwujudkan. Tak hanya itu, di dalam destinasi wisata tersebut terdapat sebuah aktivitas ekonomi produktif yang melibatkan pengrajin dengan pola kemitraan yang indah dan mulia ala mbak Sally.

Walau mungkin tanpa sadar, mbak Sally telah menciptakan sebuah model bisnis yang solid dan mulia khas Indonesia. Sebuah model bisnis yang sarat kepedulian, pemberdayaan, welas asih, jauh dari prinsip kapitalisme menghisap. Dan dengan model bisnis tersebut ia telah mengangkat dan mengembangkan batik Trusmi khas Cirebon dan batik secara keseluruhan. Karena itu tak berlebihan jika saya menyebut mbak Sally sebagai pahlawan batik: “The Batik Lady

 

* Anyway, Bisnis batik mbak Sally Giovanny juga akan dibedah tuntas di Pestawirausaha 2015 yang dibesut oleh Komunitas Tangan Di Atas (TDA), nanti pada tanggal 3, 4, 5 April 2015 di Taman Mini Indonesia Indah. Kesempatan emas ketemu entrepreneurs hebat dari seluruh pelosok negeri. Jangan lupa datang yaaaaa…!!!

March 26, 2015   3 Comments

Social Biz Model

Minggu lalu saya diundang Berita Satu untuk sebuah acara TV talkshow yang bagi saya sangat inspiring. Saya diminta membahas sepak-terjang seorang gadis belasan tahun membangun bisnis online. Namanya Chloe Purnama. Yang istimewa adalah model bisnis yang dibesut Chloe, yaitu social biz model. Mengembangkan bisnis online oleh teen sudah biasa di Indonesia, tapi bisnis online yang diramu dengan misi kepedulian sosial, itu yang masih tidak biasa.

Talk show Berita Satu - Chloe Purnama

Peduli
Chole hidup dalam sebuah keluarga yang hangat dan bahagia. Seperti umumnya keluarga bahagia, masa kanak-kanaknya menyenangkan. Everything is perfect. Namun titik balik terjadi saat Clida, salah satu adik kembarnya meninggal dunia akibat kanker ganas di otak. Peristiwa memilukan ini mengubah hidup dan pandangan Chloe dan keluarganya. Nuraninya terketuk. Sejak saat itu spirit memberi dan berbaginya membuncah.

Dorongan yang kuat untuk memberi manfaat kepada orang lain terutama mereka yang berkekurangan akhirnya membawa Chloe kepada bisnis online shop. Misinya mulia, berdagang di ranah online kemudian menyumbangkan hasilnya untuk orang-orang yang membutuhkan. Bagi Chloe memberi kepada orang yang berkekurangan adalah obat paling mujarab atas kedukaan luar biasa yang ia alami karena kehilangan sang adik.

Awalnya Chloe menjual produk-produknya (mulai dari produk fesyen, kosmetik, hingga beragam asesoris) melalui grup-grup BBM yang dia ikuti. Dengan tekun ia mengetuk hati teman-temannya untuk membeli produk-produk yang ia tawarkan sekaligus membantu sesama. Bisnis online Chloe mulai menggeliat setelah ia memanfaatkan Instagram (cek: @cloepurnama). Dengan modal akun Instagram dan ketekunan melayani pelanggan, dalam waktu dua tahun bisnis online Chloe sudah mencapai omset ratusan juta perak.

Chloe - Sukses Berbisnis Online

Story-Telling
Membuka toko online melalui blog atau Instagram mah gampang, semua orang bisa. Apa susahnya membuat blog atau membuka akun Instagram. Yang sulit adalah mendatangkan traffic dan merayu netizen untuk berkunjung. Nah, akun Instagram Chloe memiliki daya magnet yang luar biasa dalam menarik netizen karena memiliki “cool factor” dan elemen story-telling yang kuat. Apa story-telling tersebut? Tak lain adalah idealisme dan social biz yang melandasi model bisnisnya.

Inilah yang namanya business with principles. Bisnis yang tak melulu mengeruk keuntungan sebesar-besarnya, tapi dilandasi oleh prinsip-prinsip memberi dan berbagi yang meneduhkan. Bagi bisnis Chloe, spirit of giving inilah sumber magnet untuk menarik konsumen. Bisnis yang dijalani Chloe mengandung nilai-nilai mulia yang mampu membentuk emotional connection antara brand dengan konsumen. Emotional connection inilah yang menjadi dasar terbentuknya relationship, loyalty, bahkan evangelism di kalangan konsumen-konsumennya. Emotional connection ini pula yang memicu word of mouth dan positive viral di kalangan netizen yang tersentuh oleh ide mulia di balik bisnis tersebut.

Sepak terjang Chloe, mengingatkan saya pada TOMS Shoes di Amerika Serikat yang mengusung model bisnis yang kira-kira sama. TOMS yang didirikan oleh Blake Mycoskie ini menggunakan apa yang disebut model bisnis “One for One” yang sukses luar biasa. Intinya, untuk satu pasang sepatu yang terjual, TOMS mendonasikan satu pasang sepatu lain untuk anak-anak yang tidak beruntung di Argentina, Ethiopia, Rwanda, Guatemala, dan lain-lain. Dengan mengandalkan word of mouth dan para evangelists fanatik sebagai alat pemasaran ampuh, TOMS meraup sukses luar biasa hingga merambah kategori lain seperti kacamata dan baju. Seperti halnya Chloe, TOMS mengandalkan kekuatan story-telling dengan sebuah misi bisnis yang sangat mulia.

TOMS - Blake Mycoskie

The More You Give, The More You Get
Upaya mulia Chloe memberi pelajaran berharga pada kita betapa kepedulian kepada sesama bisa menjadi “roh” bagi kesuksesan sebuah bisnis. Coba saja kalau bisnis online Chloe murni mencari profit seperti umumnya bisnis-bisnis online yang lain, pasti siapapun tak akan peduli. Mungkin juga saya tak akan menulis artikel ini. Namun ketika pilar-pilar bisnisnya dibangun di atas spirit of giving yang luar biasa maka dunia pun menoleh kepadanya. Istilah kerennya: mestakung, semesta mendukung. Barangkali karena pengaruh mestakung pula saya menulis artikel ini.

Saya percaya pada hukum Tuhan bahwa, ketika Anda berbuat kebajikan dan memberi kemanfaatan luar biasa pada orang-orang di sekitar Anda, maka mereka akan membalasnya dengan kebajikan dan kemanfaatan yang jauh lebih luar biasa. “The more you give, the more you get”. Ketika Google misalnya, memberikan kemanfaatan luar biasa kepada kita semua (contonya: cari alamat gang di Jakarta begitu gampangnya dengan Google Map, gratis lagi) maka kita pun akan balik berupaya menyukseskan Google. Tak heran jika Google kini menjadi salah satu perusahaan tersukses di dunia. Sekali lagi… mestakung. Karena itu janganlah ragu-ragu untuk give more ke orang lain, karena pasti Anda akan get more dari mereka.

Prinsip “the more you give, the more you get” begitu gampang diucapkan tapi amat sulit dijalankan. Untuk mewujudkannya dibutuhka ketulusan, kejujuran pada diri sendiri, dan keikhlasan. Dan terus terang, selama sejam saya di acara talkshow Berita Satu, saya (Nama: Yuswohady. Umur: kepala empat. Dikenal sebagai: pakar bisnis dan pemasaran) belajar ketulusan, kejujuran, dan keikhlasan yang luar biasa dari seorang gadis berusia 13 tahun. Wow!!! Dan ingat tiga hal inilah “jantung” dari social biz model.

 

* Ikuti Radio Talkshow SmartFM 95.9Social Branding” bersama saya Yuswohady dan Chloe Purnama, Senin, 23 Maret, pk 8-9 pagi, live di 8 kota, pasti seru euyyyy…

March 21, 2015   2 Comments

Akik

Heboh batu akik menyapu seluruh pelosok negeri. Di mana-mana orang ngobrolin batu akik. Ngomongin batu akik kini tak kalah seru dibanding ngomongin sepak bola, bisa seharian nggak ada habisnya. Bisnis batu akik pun tumbuh bak jamur di musim hujan. Batu Bacan, batu Garut, batu Sungai Dareh, batu Kalimaya, atau batu Giok Aceh menjadi “selebritis” yang diburu penghobi dan kolektor batu akik. Harganya ampuuun, konon ada yang mencapi miliaran rupiah.

Menggeliatnya bisnis batu akik menarik ditinjau dari sudut pandang kalangan kelas menengah (saya menyebutnya: consumer 3000). Di buku saya Consumer 3000, saya menyebut konsumen dari kalangan kelas menengah ini memiliki tiga ciri. Pertama, memiliki daya beli tinggi (high buying power). Kedua, berpengetahuan dan berwawasan luas (knowledgeable) mengingat sumber-sumber informasi terbuka luas terutama internet. Ketiga, antar terhubung satu sama lain (socially-connected) melalui media baru seperti blog, Twitter, atau Facebook.

Harus diingat, fenomena heboh akik adalah fenomena kelas menengah. Kenapa? Karena, tak seperti dulu-dulu, harga akik kini sudah cukup mahal dari ratusan ribu sampai jutaan rupiah. Yang mampu mengoleksi beragam batu akik bernilai jutaan, puluhan juta, bahkan ratusan juta hanyalah (minimal) kalangan kelas menengah. Karena jumlah kelas menengah begitu besar mendominasi penduduk kita, tak heran jika heboh akik ini meluas demikian hebatnya.

Dari sudut pandang konsumen kelas menengah, ada tiga alasan yang menjadikan bisnis ini demikian heboh.

Hobi plus Investasi… Why Not!!!
Alasan pertama dari sisi hobi dan investasi. Kelas menengah adalah konsumen yang kebutuhan-kebutuhannya mulai sophisticated, tak melulu mencukupi kebutuhan sandang-pangan-papan. Dengan kemampuan keuangan dan daya beli yang lumayan, mereka mulai membutuhkan hiburan, liburan, atau memanjakan hobi. Tak mengherankan jika bisnis hiburan (contohnya: karaoke), liburan (contonya: liburan ke Singapura), dan hobi (contohnya: hobi otomotif) merupakan bisnis yang pertumbuhnnya menggeliat luar biasa. Nah, contoh hobi yang kini kian mereka gemari adalah mengoleksi batu akik.

Hobi mengoleksi batu akik kini menjadi spesial bagi kelas menengah mengungguli hobi-hobi yang lain karena di dalamnya terdapat unsur investasi. Perlu diingat, salah satu ciri lain dari kelas menengah adalah mereka mulai memiliki uang menganggur (discretionary income) yang bisa diinvestasikan ke dalam berbagai bentuk portofolio investasi mulai dari deposito, emas, properti, hingga saham. Batu akik berpotensi menjadi portofolio investasi yang menarik akhir-akhir ini karena nilainya yang terus naik. Kabar burung yang terdengar bahkan harganya mencapai ratusan juta bahkan miliaran rupiah.

Nah, ketika hobi dan investasi ini bisa “bersatu-padu” dalam entitas bisnis akik, maka tak mengherankan jika bisnis ini menjadi pilihan yang seksi bagi kalangan kelas menengah. Mereka gegap gempita memburu bisnis ini.

Instant Financial Freedom
Alasan kedua dari sisi mimpi kelas menengah untuk mencapai kebebasan finansial (financial freedom). Inilah mimpi terbesar dari kalangan kelas menengah kita: kerja habis-habisan di usia muda, lalu memasuki usia 40 atau 50 tinggal ongkang-ongkang kaki menikmati hidup dengan bunga deposito atau gain saham. Nah, bisnis batu akik bisa menjadi medium baru bagi kalangan kelas menengah kita untuk mewujudkan kebebasan finansial tersebut dengan cara aji mumpung memanfaatkan harganya gila-gilaan.

Sesungguhnya tidak tepat mengatakan bisnis batu akik sebagai investasi, lebih tepatnya adalah spekulasi. Ya, karena tingginya nilai batu akik belum sepenuhnya teruji. Takutnya harga batu akik yang melambung akhir-akhir ini adalah anomali. Tak tertutup kemungkinan tiga bulan dari sekarang nilainya jatuh seperti yang dialami Anthorium beberapa tahun lalu. So, maraknya bisnis akik akhir-akhir ini tak lain adalah cermin dari “irrational exhuberance” (meminjam Alan Greenspan) untuk mewujudkan kebebasan finansial dengan cara-cara yang instan.

Para “pelaku dadakan” bisnis akik ini terobsesi untuk kaya mendadak karena terbius oleh simpang-siur informasi mengenai tingginya nilai batu akik. Saya misalnya, menemukan di salah satu posting di media online, bahwa harga satu batu akik bisa mencapai Rp.18 miliar… wow!!! Obsesi menjadi jutawan atau miliarder dengan mudah dan instan inilah yang menjadi penyulut maraknya bisnis ini beberapa tahun terakhir. Semua orang terbuai oleh obsesi menjadi kaya mendadak.

WOM Bak Virus
Alasan ketiga adalah hadirnya media sosial yang memainkan peran kunci dalam “menggoreng” nilai batu akik yang gila-gilaan. Seperti saya ungkapkan di depan konsumen kelas menengah adalah kalangan yang socially-connected alias terhubung satu sama lain oleh media seperti blog, Twitter, atau Facebook. Dengan adanya media sosial, informasi apapun merambat demikian cepat. Contohnya harga batu akik Rp.18 miliar tadi, bisa merambat demikian cepat menghasilkan promosi dari mulut ke mulut (word of mouth, WOM) yang menjadikan bisnis ini demikian hot dan atraktif.

Komunitas-komunitas batu akik, baik offline maupun online, menjadi agen yang penting bagi terwujudnya WOM tersebut. Melalui percakapan di dalam dan antar komunitas itulah nilai bisnis batu akik “digoreng” sehingga memiliki daya tarik yang luar biasa. Kisah-kisah sukses pebisnis batu akik begitu bombastis disebarkan melalui media sosial bak virus ganas. Dari situ muncul exhuberance alias kegairahan luar biasa untuk berbisnis batu akik, tak hanya dari kalangan yang telah lama berkecimpiung di bisnis ini tapi terutama orang-orang awam dan pebisnis-pebisnis batu akik dadakan. Harap diketahui, yang justru heboh adalah yang terakhir ini.

Harus diakui heboh bisnis akik membawa manfaat ekonomi yang positif bagi kita semua. Karena itu saya selalu berdoa agar heboh bisnis ini bisa berlangsung terus dan sustainable. Jangan sampai kejadian heboh Anthorium atau ikan Louhan terulang.

March 14, 2015   2 Comments

Java Jazz… Selfie-Wefie

Java Jazz Festival datang lagi. Terus terang, saya melihat tahun ini minim bintang dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tapi tetap saja, Java Jazz adalah suguhan hebat tak boleh terlewatkan. Setidaknya masih ada legenda-legenda jazz seperti Ramsey Lewis, Courtney Pine, Bobby McFerrin, atau Brad Mehldau dan Chris Botti. Dan seperti halnya tahun-tahun lalu, tiga hari full saya heboh betul “berburu panggung” sore hingga diri hari.

Di samping berburu panggung dan merasakan penampilan jazzer kelas dunia, hobi unik saya tiap kali nonton Java Jazz adalah mengamati penonton Java Jazz. Yup, sebagian besar mereka adalah kalangan kelas menengah (yes, Consumer 3000) yang haus hiburan berkelas dunia. Seperti sering saya tulis, kalangan ini memiliki tiga ciri utama: daya beli lumayan tinggi (high buying power), berpengetahuan dan haus informasi (knowledgeable), dan secara sosial terhubung satu sama lain (socially-connected). Yang ingin saya bahas dalam tulisan ini adalah ciri terakhir.

Selfie, Wefie
Yang paling menarik saya saat mengamati penonton Java Jazz adalah perilaku selfie-wefie mereka. Di mana-mana mereka selfie-wefie: di wall of fame tentu saja, di depan panggung, di tengah kerumunan penonton, di panggung terbuka, di stan-stan sponsor, di area food court, di manapun. Tak bisa foto selfie dengan si artis nggak papa, selfie bareng foto si artis juga tak kalah oke. Syaratnya cuma satu, di setiap foto selfie-wefie mereka harus ada logo atau atribut Java Jazz.

Inilah satu hal fenomenal yang saya temui di Java Jazz dari sisi perilaku konsumen: mereka nonton Java Jazz tak hanya untuk mendengarkan musisi jazz kelas dunia, tapi juga agar dilihat orang lain sedang nonton Java Jazz. Nggak penting pertunjukannya berkelas, nggak penting musisinya hebat, yang penting terlihat keren di Twitter, Instagram, atau Path karena sedang menonton Java Jazz. Di lihat orang lain memberi eksistensi bagi mereka.

Harus diakui setelah 11 tahun dibesut, Java Jazz (dan jazz secara umum) telah menjadi sebuah simbol kekerenan dan keprestisan. Java Jazz is a cool and prestigious brand. Nonton Java Jazz adalah “something awesome”, tak hanya karena keindahan musik dan kehebohan pertunjukannya, tapi juga karena bisa dipamerkan ke teman-teman, kolega di kantor, rekan bisnis, pacar dan calon pacar, kerabat di kampung, dan siapapun yang perlu dipameri.

Bagi mereka, menggemari, bisa menikmati, dan menjadi penonton Java Jazz adalah cermin posisi sosial tertentu yang prestisius. Mereka dianggap kelompok dengan gaya hidup, tingkat pengetahuan-wawasan, dan cita rasa seni tertentu, yang tak sembarang orang bisa memilikinya. Mereka membeli tiket Java Jazz bukan semata untuk menikmati keindahan musik jazz tapi juga untuk mendapatkan prestise sosial. Sama dengan seorang kaya membeli Ferrari bukan untuk ngebut (karena jalanan Jakarta macet ampun) tapi agar bisa narsis dilihat tetangga mampu beli Ferrari. Punya Ferrari adalah prestise sosial yang tak ternilai harganya.

Social Experience
Inilah abad revolusi media sosial. Ketika konsumen terhubung satu sama lain oleh media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, atau Path, maka mereka begitu gampang berbagi citra diri (personal image) ke orang lain. Ketika media sosial memungkinkan kita menjangkau audiens yang begitu luas, maka kinilah saatnya kita mengumbar kenarsisan kita.

Sebut saja jaman ini adalah era “democartization of narcissism”. Era dimana siapapun mendapatkan hak penuh untuk narsis, nggak cuma monopoli Syahrini. Budaya “see and to be seen” pun menjadi wabah yang merajalela. Keinginan hakiki kita untuk dilihat dan diperhatikan (saya sebut: “naluri narsis”) pun menjadi terbebaskan dan terlampiaskan. Tagline YouTube “Broadcast Yourself” menjadi semacam “pekik kemerdekaan” yang menandai terbebasnya konsumen untuk memuaskan kebutuhan narsisnya.

Pengalaman berbagi foto selfie-wefie Java Jazz kita di Twitter atau Instagram menghasilkan apa yang saya sebut social experience. Ini semacam “kenikmatan sosial” yang kita peroleh saat kita disorot ribuan atau jutaan pasang mata teman-teman kita. Kenikmatan itu kita dapatkan jika kita diperhatikan orang lain. Atau kenikmatan yang kita peroleh jika kita berelasi, berbagi pengalaman, dan berinteraksi dengan orang-orang di luar kita. Sebuah relasi yang menghasilkan kebersamaan, kebanggaan, rasa percaya diri, aktualisasi diri, perasaan GR (gedhe rumongso), kebermaknaan diri, bahkan eksistensi diri.

Barangkali karena hal terakhir inilah event ini kian ramai dari tahun ke tahun. Karena kekuatan brand-nya sebagai symbol of coolness and prestige, Java Jazz memberi medium bagi eksistensi diri para penonton. Bagi mereka Java Jazz tak hanya ajang menikmati musik, tapi juga (yang lebih penting) ajang selfie-wefie.

 

March 7, 2015   1 Comment

Berani Ganjil

Seminggu ini saya nonton dua film yang begitu mendalam mengganggu dan memengaruhi otak saya. Keduanya kebetulan menyabet Oscar yang digelar awal minggu ini. Film pertama adalah The Imitation Game dan kedua Whiplash. Dua film ini setali tiga uang, keduanya bercerita hal yang sama, yaitu sosok yang ganjil; sosok yang terkucil dari masyarakat lingkungannya karena keganjilannya.

Yang pertama adalah Alan Turing (diperankan Bennedict Cumberbatch), “the father of computer science and artificial intelligence”, yang sepanjang hidupnya kesepian karena terbuang, tidak mendapatkan penerimaan dari lingkungannya (bahkan negaranya) karena kenylenehannya. Sementara yang kedua adalah Dr. Terence Fletcher (diperankan J.K. Simmon), pengajar di sekolah musik Shaffer yang sangat “sadis” dalam menggembleng talenta-talenta yang menjadi anak didiknya. Sama dengan Turing, Dr. Fletcher dihujat oleh lingkungannya karena pendekatan pengajarannya yang tak masuk akal. Nasib tragis menimpanya, karena ia kemudian dipecat dengan tidak hormat oleh almamaternya.

Melawan Arus
Ada satu hal yang membuat saya begitu mengagumi dua sosok ini, yaitu mereka berani ganjil. Mereka berani beda; mereka berani mengambil jalur sepi; mereka berani melawan arus dengan risiko yang tak main-main. Risiko terpinggirkan, dicemooh, dihujat, dikucilkan, dan dianggap gila. Yang saya salut, keganjilan mereka bukan asal ganjil. Keganjilan mereka dilandasi sebuah prinsip superkokoh; didasari sebuah keyakinan yang sangat dalam akarnya; dan ditopang oleh kepercayaan diri yang luar biasa. Demi sesuatu yang diyakininya mereka berani ganjil.

Keganjilan Dr. Fletcher misalnya, dilandasi keyakianan bahwa hanya dengan gaya mendidik superkeras bahkan brutal, seorang anak didik mampu di-stretch kemampuannya ke suatu tingkat yang tak terbayangkan bakal terwujud. Hanya dengan cara begitu si anak didik keluar dari zona nyaman dan menggapai capaian yang extraordinary. Ia adalah sosok hyperdemanding yang menuntut anak didiknya mencapai kesempurnaan. Inilah kata-kata Dr. Fletcher yang sangat saya suka: “There are no two words in the English language more harmful than ‘good job’.” Baginya, mengatakan “kamu sudah cukup baik” kepada anak didik adalah “racun” yang membunuh potensi dan kemampuan luar biasa si anak didik.

Sementara keganjilan Turing dilandasi kepercayaan diri yang luar biasa: kepercayaan diri seorang genius. Sejak awal Turing sadar bahwa ia adalah satu-satunya “orang terpilih” yang mampu memecahkan kode rahasia Nazi. Kepercayaan diri yang bersimbiosis dengan kejeniusan otak dan kerja superkeras ini rupanya menghasilkan sebuah penemuan besar (alat yang sekarang kita kenal sebagai “komputer”) yang kemudian mengubah sejarah dan peradaban umat manusia. Turing adalah sosok yang hadir mendahului jamannya. Itu sebabnya ia dianggap “alien” yang datang dari planet antah-berantah.

Melampaui Jaman
Turing dan Dr. Fletcher tak sendirian. Sosok seperti Copernicus, Charles Darwin, Rembrandt, Amadeus Mozart, Thomas Edison, Wright bersaudara, Sigmund Freud, atau Albert Einstein adalah sosok-sosok yang berani tampil ganjil demi prinsip-prinsip kebenaran yang mereka yakini. Mereka adalah sosok yang tidak bisa dimengerti oleh jamannya karena pemikiran-pemikirannya yang melambung jauh ke depan. Dengan persistensi dan keteguhan luar biasa mereka memegang prinsip yang mereka yakini tanpa peduli apa kata masyarakat lingkungannya. Mereka adalah sosok yang berani keluar dari mainstream.

Copernicus berpikir ganjil dengan mengatakan bahwa Matahari lah pusat tata surya, bukan Bumi seperti diyakini semua orang pada masa itu. Charles Darwin berpikir ganjil dengan melahirkan teori evolusi yang bertolak belakang dengan prinsip gereja dan paradigma keilmuan yang umum diterima saat itu. Wright bersaudara berpikir ganjil dengan memecahkan mitos bahwa manusia bisa terbang layaknya burung. Pikiran ganjil ini pula yang membuka jalan terciptanya pesawat terbang yang mampu membawa kita melintas Atlantik dalam ukuran jam.

Tak gampang menjadi orang yang berani ganjil. By default kita adalah mahluk conformist yang cenderung “mencari aman” dengan patuh pada prinsip, tatanan, dan standar yang berlaku umum dan telah mapan sebelumnya. Kita cenderung menghindari kemungkinan-kemungkinan baru karena hal itu akan memicu ketidakmenentuan, chaos, dan mengancam kenyamanan. Tapi ingat, peradaban akan menggeliat hanya jika ada sosok ganjil yang berpikir berbeda. Kemajuan umat manusia akan terwujud jika ada sosok macam Darwin, Einstein, atau Turing yang selalu mencurigai dan mempertanyakan kemampanan.

Ada satu kalimat yang menginspirasi saya, diucapkan oleh Joan Clarke (tunangan Alan Turing yang akhirnya tak jadi menikah) kepada Turing, saat si genius berada di puncak keputusasaan karena merasa terasing dari lingkungannya. “No one normal could have done that… The world is an infinitely better place precisely because you weren’t.” Intinya Joan bilang kepada Turing: “Semua penemuan hebat ini terwujud karena kamu tidak normal, karena kamu ganjil. Dunia menjadi tempat yang lebih baik berkat terhindar dari kecamuk perang karena kamu tidak normal, karena kamu ganjil.”

Saya menulis kolom ini dengan satu pesan moral: janganlah takut ganjil, karena bisa jadi keganjilan menghasilkan sesuatu yang luar biasa. “Be weird… and change the world!!!

February 28, 2015   6 Comments

Talkshow SmartFM: “Branding Buah Lokal”

Acara: Talk Show “Smart Branding”, SmartFM 95.9FM
Waktu: Senin, 23 Februari 2015, Pukul 08.00-09.00 WIB
Tema: “Branding Buah Lokal: The Sunpride Story”
Tamu: Luthfiany, Marcomm Manager, Sunpride
Host: Yuswohady

Indonesia memiliki keanekaragaman buah yang luar biasa banyak. Mulai dari salak Pondoh, apel Malang, pisang Ambon, durian, rambutan, manggis, duku dan sebagainya. Celakanya, masih sedikit sekali buah-buah yang merupakan kekayaan asli Indonesia ini diolah secara modern menghasilkan brand yang berdaya saing tinggi.

Yang justru menyedihkan adalah, buah-buah impor membanjiri supermarket-supermarket di negeri ini. Sementara buah lokal hanya puas di jual di pasar-pasar tradisional dengan kualitas memprihatinkan. Yang menjadi keresahan kita semua adalah kalau suatu saat buah lokal punah digilas oleh merek-merek buah asing tersebut.

Ini merupakan ironi, karena seharusnya buah-buah lokal menjadi tuan rumah di negeri sendiri dengan mengandalkan kekuatan brand dan quality excellence. Kalau buah-buah lokal bisa di-branding sehingga memiliki nilai tambah tinggi maka ia tak akan kalah dari industri elektronik, otomotif, bahkan industri pesawat sekalipun.

Nah, Sunpride adalah sedikit brand buah lokal yang membanggakan karena cukup berhasil membawa misi menjadikan buah lokal sebagai tuan rumah di negeri sendiri. Jangan dikira gampang membawa buah segar ke supermarket. Dibutuhkan pembibitan, penanaman, pemanenan, pengolahan pasca panen, hingga pendistribusian super rumit agar buah tetap segar dan berkualitas prima saat sampai di supermarket. Sunpride mampu melakukannya dengan standar kualitas kelas dunia. Viva brand buah lokal!!!

 

 

February 22, 2015   2 Comments