Kelas Menengah Rapuh
Beberapa hari lalu saya ngobrol dengan temen-temen komunitas Tangan Di Atas (TDA) mas Badroni Yuzirman, pak Lywa Fauzie, dan mbak Diah Yusuf di Citos, Jakarta Selatan. Ngobrol ngalor-ngidul akhirnya kami sampai ke pembicaraan krisis subprime mortgage di AS tahun 2008. Pemicunya, kebetulan kami sama-sama nonton film dokumenter Capitalism: A Love Story arahan sutradara nyentrik Michael […]
Experiencer
Saya menulis artikel ini sambil menuggu nonton pentas Teater Koma Sie Jin Kwie di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM) kemarin sore (24/3). Pertunjukan baru jam delapan malam, tapi jam empat saya sudah di TIM, takut nggak kebagian tiket. Maklum sehari sebelumnya seorang teman sudah wanti-wanti tiket ludes. Betul juga, lihat di monitor kursi […]
Melamun Adalah Harta Karun
Kemunculan konsumen kelas menengah secara massal merupakan fenomena baru di Indonesia. Kelas konsumen baru ini muncul sebagai dampak dari meningkatnya kemampuan ekonomi dan daya beli masyarakat. Makin makmurnya konsumen (apalagi mereka juga makin terdidik) mengubah pola pikir dan perilaku dalam membeli dan mengonsumsi barang. Perubahan perilaku konsumen ini menciptakan peluang-peluang baru yang luar biasa bagi […]
Java Jazz dan Kelas Menengah
Setiap kali nonton Java Jazz saya selalu takjub. Takjub bukan oleh penampilan ratusan musisi hebat kelas dunia di gelaran tahunan jazz paling bergengsi itu, tapi oleh penonton yang membludak luar biasa. Dan setiap kali saya menonton “orang kaya Jakarta” meluap berpesta pora menikmati jazz, di otak saya selalu terbersit ucapan-ucapan indah, “makmur betul Indonesia ini, […]
Valentine?… EGP!
Ketika Consumer 3000 basic needs-nya sudah tercukupi, maka kebutuhan mereka pun kemudian naik kelas, tak hanya urusan perut tapi juga kebutuhan-kebutuhan lain yang aneh-aneh. Yang nggak penting-penting kini menjadi penting. Salah satunya adalah mengungkapkan kasih-sayang di hari Valentine. Kenapa yang nggak penting-penting sekarang menjadi penting? Sekarang untuk mengungkapkan kasih-sayang kepada orang-orang yang kita cintai kita […]
Brand “Indonesia”
Beberapa tahun silam saya ikutan nimbrung menyusun strategi branding Yogyakarta ber-tagline “Jogja Never Ending Asia”. Saya masih ingat, waktu itu terjadi diskusi seru menyangkut bagaimana memosisikan Yogya di benak konsumen yaitu trader, tourists, dan investor (TTI). Opsinya adalah apakah Yogya dilekatkan ke Indonesia atau Asia. Setelah melalui perdebatan panjang akhirnya diputuskan Asia, bukan Indonesia. Makanya […]
Konsumen Narsis
Akhir 2010 saat saya mengintroduksi terminologi Consumer 3000, saya sudah mengatakan bahwa salah satu ciri dari konsumen gaya baru Indonesia ini adalah terhubung satu sama lain (connected). Dua ciri yang lain adalah, mereka berdaya beli tinggi (high buying power) dan berpengetahuan (knowledgable). Bagi yang belum tahu, Consumer 3000 adalah istilah yang saya pakai untuk menyebut […]
Mallism
Mallism atau kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “malisme” adalah istilah rekaan saya mengenai sebuah kepercayaan di kalangan kaum urban dalam memanjakan keinginan (wants) dan kebutuhan (needs) mereka di tempat keramat nan eksotik bernama mal. Istilah ini diilhami dari kata “animisme” (animism) dan “dinamisme” (dynamism) yang begitu saya hafal saat saya masih duduk di […]
Entrepreneur Nasionalis
Oktober 2010 untuk pertama kalinya saya memperkenalkan istilah Consumer 3000 dan sejak itu di mana-mana (di seminar-seminar, di Twitter, di diskusi-diskusi, ngobrol dengan klien, di manapun) saya bicara memperkenalkan terminologi baru itu. Angka 3000 saya ambil karena angka tersebut merupakan angka ambang batas (treshold) GDP perkapita dimana suatu negara akan mencapai akselerasi perkembangan ekonomi (accelerated […]
Nasionalisme Konsumen
Nasionalisme bukan hanya monopoli pejoang 45. Konsumen juga punya nasionalisme. Bahkan harus memiliki super nasionalisme ketika bangsa ini mulai merayap menjadi bangsa besar. Penduduk kita sudah mencapai 240 juta kelima terbesar di dunia, GDP kita telah mencapai Rp 7.500 triliun dan tahun lalu untuk pertama kalinya dalam sejarah kita melampaui angka ambang batas GDP/kapita $3000. […]