Strategy in Crisis

Minggu lalu saya membagi konsumen di masa krisis menjadi empat jenis, yaitu: Panickers, Bargainers, Floaters, dan Wisers. Empat jenis konsumen ini memiliki profil dan karakteristik yang berbeda berdasarkan persepsi mereka mengenai tingkat keamanan hidup (life security) di masa krisis dan respons mereka terhadap datangnya krisis. Minggu ini giliran saya memberikan strategi dan tips bagaimana mengarap […]

Consumers in Crisis

Rupiah dibantai habis oleh dolar dan yuan. Ekonomi melambat. PHK menghantui buruh dan pekerja. Cabe mahal. Daya beli terpangkas. Dan yang tak kalah meresahkan, obrolan di WA pekat berisi isu simpang-siur mengenai bakal ambruknya perekonomian Indonesia. Hopeless dan pesismisme ini menjalar bak virus menghasilkan self-fulfiling prophecy yang kian menciutkan nyali kita menghadapi krisis. Ini ujung-ujungnya […]

My Brand New Book: “8 Wajah Kelas Menengah”

Alhamdulillah, buku baru saya terbit lagi. Buku berjudul: 8 Wajah Kelas Menengah (Gramedia Pustaka Utama, 2015) ditulis bersama Kemal E. Gani (Pemimpin Umum Majalah SWA) dan tim riset dari majalah SWA dan Inventure. Buku ini rencananya diluncurkan pada gelaran Indonesia Middle Class Forum (MCF) 2015 bertema “Value Innovator” pada tanggal 11 Juni 2015, di Hotel […]

“Her”, Big Data, Algoritma

Minggu lalu saya nonton midnight film hebat bertitel “Her”, pemenang sekaligus Golden Globe dan Oscar untuk skenario film terbaik. Film ini bercerita mengenai seorang pria kesepian yang jatuh cinta berat pada operating system (OS) komputer super cerdas yang mewujud dalam bentuk suara wanita bernama Samantha. Melalui sosok Samantha dengan suara yang seksi nan mendesah, program […]

Middle-Class Moslem

Bulan-bulan ini saya bareng tim di Inventure sedang sibuk-sibuknya menyiapkan sebuah research project mengenai perilaku konsumen kelas menengah muslim (middle-class moslem) di Indonesia. Very challenging! Kenapa? Karena, tak cuma potensinya yang luar biasa besar, tapi juga dinamika perubahannya beberapa tahun terakhir mencengangkan. Bahkan saya berani mengatakan selama 5 tahu terakhir pasar middle-class moslem di Indonesia […]

Social Proof

Saat saya liburan bareng istri dan anak-anak ke luar kota, ada kiat jitu yang kami pakai untuk memilih tempat makan yang tidak kami ketahui apakah sajiannya enak atau nggak. Biasanya kami muter-muter, kami telusuri satu-persatu warung atau restauran yang ada di kota itu, lalu kami cari mana dari warung atau restoran itu yang dikerumuni pengunjung. […]

Cashless Society dan Konsumtivisme

Minggu ini saya masih akan membahas hasil survei Center for Middle-Class Consumer Studies (CMCS, lembaga think-tank yang saya bentuk) mengenai perilaku nasabah bank kelas menengah di Indonesia. Biangnya, karena ada satu temuan survei tersebut yang membuat saya galau. Salah satu temuan menarik dari survei bertajuk Indonesia Middle Class Banking Consumer Report 2014: “Getting Cashless and […]

Local Wisdom

Kearifan lokal (local wisdom) rupanya bisa menjadi senjata ampuh merek lokal dalam menghadapi serangan agresif merek global. Resep ampuh inilah yang digunakan Martha Tilaar Group (MTG) untuk menghadapi raksasa kosmetik global sekaligus menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Beberapa hari lalu saya ngobrol santai dengan pak Sam Pranata, Direktur Marketing MTG di sebuah kafe di […]

Merayakan Tahun Baru

Dulu waktu saya masih tinggal di kampung, tahun baru adalah hal biasa. Pergantian tahun lewat begitu saja tanpa kembang api memecah-mecah langit, tanpa perayaan glamor di mal-mal, tanpa selebrasi di kafe-kafe atau hotel-hotel berbintang, tanpa konser musik semalaman, tanpa ada “hitung mundur” yang mendebarkan. Dulu pergantian tahun meluncur mulus dengan kekhusukan, kesederhanaan, dan refleksi penuh […]

Siapa Bilang Kelas Menengah Kita Apolitis

Benarkah kelas menengah kita konsumtif dan cuek bebek terhadap persoalan-persoalan negaranya? Benarkah mereka kelas hedonis yang bisanya cuma belanja di mal atau nongkrong di Starbucks, tanpa pernah peduli pada persoalan-persoalan sosial seperti korupsi atau dekadensi moral wakil rakyat? Benarkah mereka “kelas penonton” yang cuma diam dan mandul sebagai elemen perubahan sosial? Awalnya saya menganggap begitu. […]