“10:90 Marketing”
Kenapa saya sebut “10:90 (ten-ninety) Marketing”? Karena marketing kini tak lagi dimonopoli marketer. Dulu memang marketing 100% dilakukan oleh marketer, konsumen mendapat jatah 0%. Marketer melakukan semuanya: membuat produk unggul, menyewa agensi untuk membuat iklan, dan kemudian mem-broadcast iklan tersebut ke seluruh penjuru tanah air menggunakan TV, radio, atau koran. Sementara si konsumen hanya pasif […]
Pilkada Jakarta: Suara Kelas Menengah
Penulis: Hasanuddin dan Yuswohady Penentuan siapa pemenang Pilkada DKI Jakarta tinggal menunggu waktu beberapa saat saja. Genderang perang kampanye dari dua kandidat yang lolos putaran dua, pasangan Fauzi Bowo/Nachrowi Ramli dan Joko Widodo/Basuki Tjahja Purnama, telah ditabuh. Berbagai upaya dilakukan oleh dua kandidat tersebut untuk meraih simpati dan suara sebanyak-sebanyaknya dari pemilih Jakarta. Banyak pihak […]
c3000 vs e3000
c3000 adalah istilah yang saya ciptakan di Twitter untuk menyebut consumer 3000 atau kelompok konsumen kelas menengah Indonesia. Sedangkan e3000 adalah istilah saya untuk entrepreneur 3000 yaitu wirausahawan yang berasal dari kalangan kelas menengah. Ya, perlu diingat bahwa kalangan kelas menengah merupakan sumber kelas wirausahawan yang potensial mengingat mereka memiliki discretionary income (duit menganggur) yang […]
Going Middle
Saya menggunakan sub-judul buku saya Consumer 3000: Revolusi Kelas Menengah Indonesia dengan sebuah ungkapan seksi nan menantang: “Menangkan Pasar Paling Besar dan Paling Menguntungkan di Indonesia”. Kenapa? Paling besar, karena dengan sekitar 60% atau hampir 150 juta penduduk kita adalah kelas menengah (pengeluaran $2-20/perhari), maka secara ukuran (size) pasar ini paling besar dan prospektif. Juga […]
Social Customer
Social customer adalah konsumen jenis baru (lebih tepatnya saya sebut, “mutan” baru) yang muncul menyusul terjadinya dua revolusi: (1) revolusi konsumen kelas menengah, yes Consumer 3000. (2) revolusi media sosial. Konsumen baru ini memiliki dua ciri dan dua senjata. Ciri pertama mereka knowledgeable: tahu mendalam informasi apapun mengenai produk dan layanan yang hendak dibeli (thanks […]
Bukber 3000
Bukber alias “buka bersama” saya gambarkan layaknya gadis molek yang sedang mencorong di bulan puasa ini. Kalau artis sinetron atau bintang iklan, ia layaknya superstar yang sedang heboh diperebutkan stasiun TV dan pengiklan. Kalau seorang model, wajahnya terpampang di billboard tiap perempatan, cover-cover majalah atau poster-poster yang tertempel di tembok-tembok gang. Semua kegiatan kita di […]
Consumer 3000: The Inside Story
“@yuswohady: Akhirnya BAYI itu lahir juga | #c3000 #MyNewBook” Itu adalah twit saya hari Kamis sore (2/8) lalu, saat buku saya Consumer 3000: Revolusi Konsumen Kelas Menengah Indonesia (Gramedia Pustaka Utama, 261 hlm, 2012) keluar fresh from the oven dari percetakan Gramedia. Bersama twit tersebut saya lampirkan jepretan foto buku yang baru saya terima dua […]
Employee Is Brand Ambassador
Hari Kamis (26/7) lalu saya menghadiri acara peluncuran CD inflight music Garuda Indonesia (GI) bertajuk “The Sounds of Indonesia”, yang berisi lagu-lagu daerah Nusantara (mulai dari Rasa Sayange, Manuk Dadali, hingga Cublak-Cublak Suweng), yang ditata apik dalam format orkestra oleh Addie MS. Lagu-lagu ini awalnya hanya diputar di pesawat GI namun karena banyaknya permintaan konsumen, […]
Marketing Al Amin vs. Marketing Pencitraan
Pilkada DKI putaran pertama telah lewat. Bagi saya yang menekuni bidang marketing, kemenangan Jokowi-Ahok menyimpan sebuah pelajaran berharga yang bisa kita pakai untuk berkaca. Sejak ajang pemilihan kepala negara, legislatif, dan daerah tersulap menjadi sebuah industri yang bergelimang rupiah, marketing capres/caleg/cagub-bup kepada para stakeholders-nya dimaknai secara sempit sebagai proses pencitraan (image building). Celakanya, proses pencitraan […]
Perang Twitter Cagub
Selama seminggu ini (artikel ini ditulis Sabtu, 7/7) iseng-iseng saya mengamati perang para calon gubernur (Cagub) DKI di ranah Twitter. Seru!!! Tapi sayang, banyak Cagub kita yang kurang bisa bermain cantik memanfaatkan para followers untuk membangun dukungan. Kenapa begitu? Pertama, karena aksi mereka di Twitter cenderung boring karena defisit kreativitas. Ya, karena isi twit mereka […]