Hashtag = Gerakan Massa

Consumer 3000,social media

Tulisan ini diinspirasi saat saya mendapatkan buku dari teman-teman komunitas Langsat beberapa waktu lalu. Buku tersebut berjudul, #KoinKeadilan: Media Sosial dan Gerakan Massa – Belajar dari Pengumpulan Koin Untuk Prita Mulyasari. Buku yang ringkas dan simple tapi sarat pelajaran ini menginspirasi saya mengenai kekuatan media sosial seperti Twitter dan Facebook. Otak saya tergelitik oleh judul buku yang menggunakan tanda hashtag (tanda pagar #) yang kemudian menyadarkan saya mengenai powerful-nya hashtag di Twitter sebagai “alat” untuk menggalang gerakan massa.

Jangan remehkan hashtag. Sebuah mesin kekuasaan yang demikian otoriter, kokoh dan angkuh seperti pemerintahan Hosni Mubarak pun “takluk” oleh tiga hashtag yang mampu memobilisir rakyat mesir yaitu: #jan25, #Cairo, #suez. Tiga hashtag itu menjadi semacam alat “pemersatu” rakyat Mesir untuk menggulingkan kekuasaan otoritor yang sudah begitu menindas selama 30 tahun. Tiga hashtag itu yang memicu gelombang viral yang menyadarkan rakyat mesir bahwa pemerintah mereka tiran dan korup, sehingga harus secepatnya diakhiri. Tiga hashtag itu pula yang memungkinkan rakyat Mesir memiliki suntikan semangat dan dukungan dari masyarakat internasional.

Simbol Gerakan Massa
Awalnya hashtag dipakai sebagai alat bantu untuk menandai sebuah komentar atau topik perbincangan tertentu di jagat Twitter. Dengan hashtag maka tweeps (para pengguna Twitter) akan dengan mudah menelusuri topik tertentu tersebut dengan fitur pencari (search) di Twitter. Katakan saya minggu lalu nonton Java Jazz 2011 di Kemayoran. Saya ingin semua tweets saya mengenai event akbar tersebut “terkumpul” dan bisa saya lacak, maka saya tinggal menuliskan hashtag #javajazz di setiap tweets yang saya bikin. Di kemudian hari ketika ingin mengetahui tweet-tweet mengenai Java Jazz, saya tinggal mengetik #javajazz di fitur pencari di Twitter.

Tapi kita tahu Twitter adalah media sosial tempat berkumpulnya komunitas para tweeps. Karena itu hashtag bisa dipakai untuk menandai suatu topik atau perbincangan secara bersama-sama (sharing). Jadi, siapapun peminat Java Jazz bisa menggunakan hashtag yang sama yaitu #javajazz untuk berbagi informasi dan komentar mengenai event kebanggaan Indonesia itu. Dengan “hub” berupa hashtag tersebut maka komunitas Twitter penyuka jazz akan dapat berbagi informasi antar sesama mereka.

Penghuni Twitterland adalah komunitas yang sangat kreatif dan dinamis, karena itu peran hashtag pun kemudian ber-evolusi, dari sekedar penanda topik tertentu menjadi “simbol untuk menggerakkan massa. Gerakan apapun: ajakan anti narkoba, ajakan berpartisipasi membantu korban bencana alam, ajakan mengkaji sebuah konsep atau ide tertentu, ajakan untuk memikirkan nasib bangsa di masa depan, atau bahkan ajakan untuk melakukan revolusi menumbangkan pemerintahan otoriter seperti yang terjadi di Mesir.

Pada saat Merapi meletus, secara sukarela para tweeps membuat hashtag #merapi dan #pedulimerapi untuk menyadarkan dan membangun kepedulian masyarakat tentang bencana nasional tersebut. Melalui hashtag tersebut mereka juga “mengkoordinasikan” upaya-upaya  kita dalam membantu menanggulangi bencana Merapi. Ketika Jepang dilanda gempa-tsunami dahsyat berkekuatan 8,9 SR maka masyarakat Twitter menggunakan hashtag #helpjapan atau #prayforjapan untuk membangun kepedulian dan menggalang bantuan untuk para korban gempa-tsunami.

Ketika kita jengkel dengan kebebalan Nurdin Halid yang tetap ingin menguasai PSSI, secara spontan dan sukarela masyarakat Twitter membangun opini publik untuk merespons kebebalan Nurdin Halid dan mambangun dukungan untuk menurunkannya. Maka kemudian lahirlah hashtag #nurdinturun. Hashtag ini menjadi semacam simbol penggalangan massa untuk mengembalikan kejayaan sepak bola nasional dengan dengan memperbaiki kinerja PSSI. Mereka melihat bahwa turunnya Nurdin Halid merupakan elemen krusial bagi upaya perbaikan PSSI secara substansial dan mendasar.

Contoh lain adalah apa yang saya lakukan dengan hashtag #c3000 atau consumer 3000. Hashtag ini saya ciptakan untuk membangun kesadaran seluruh anak negeri mengenai datangnya momentum yang penting bagi bangsa ini setelah 65 tahun merdeka, yaitu tercapainya ambang batas (treshold) GDP/kapita sebesar $3000 pertahun. Melalui hashtag ini saya mengajak para ekonom, politisi, pejabat publik, wirausahawan, dan berbagai kalangan masyarakat untuk memikirkan bagaimana Indonesia menyiapkan diri agar potensi ledakan pertumbuhan yang terjadi bisa dikelola dengan baik, seperti halnya yang dilakukan oleh di Cina.

Shared Awareness
Hashtag adalah cara kreatif yang dilakukan oleh komunitas Twitter untuk membangun kepedulian kolektif mengenai sebuah isu atau persoalan sosial tertentu. Dalam bahasa Clay Sirky, pakar media sosial dari New York University, hashtag memiliki kekuatan ampuh untuk membentuk “shared awareness” yang bisa berujung kepada gerakan massa yang kongkrit seperti demonstrasi politik, aksi kepedulian, kampanye sosial, dan sebagainya. Kerika shared awareness mengenai suatu isu sosial sudah dirasakan urgensinya oleh masyarakat dan mencapai tipping point-nya, maka viral mengenai isu tersebut akan menjalar dengan cepat dan mengkristal menjadi gerakan massa dengan skala yang besar.

Ambil contoh kasus Nurdin Halid. Awalnya seorang tweep membaca di koran atau nonton di TV mengenai kebebalan Nurdin Halid. Lalu si tweep ini ngetwit mengungkapkan kekesalannya kepada sang tokoh kontroversial dengan menggunakan hashtag #nurdinturun. Rupanya kekesalan itu dialami oleh para tweep yang lain, karena itu kemudian mereka me-retweet-nya. Retweet ini akan terus berulang ketika makin banyak tweep yang merasakan kekesalan yang sama.

Singkatnya, hashtag mampu membangkitkan “shared awareness” di kalangan komunitas Twitter yang mengingikan agar Nurdin Halid mundur. Ketika shared awareness ini begitu kuat, maka pembentukan isu dan opini publik pun menyebar dengan cepat, yang akhirnya bisa berujung pada gerakan massa. Proses inilah yang juga berlangsung ketika Hosni Mubarak jatuh dari kekuasaannya. Intinya, dengan hashtag, membangun shared awareness menjadi begitu mudah dan cepat.

Awas!!! Hashtag bisa menjadi awal dari sebuah gerakan massa yang begitu powerful.

Bagikan Artikel ini ➙

2 Responses

  1. Bagaimana dengan Hashtag untuk mengangkat kepedulian terhadap produk negeri sendiri, memakai produk negeri sendiri, sebagai wujud kebanggaan berwarganegara indonesia?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *