Hari ini puncak arus balik.
Libur lebaran usai. Penduduk Jakarta bakal mulai berkubang dengan rutinitas kerja kembali.
Namun banyak kaum pekerja yang halu “belum rela” meninggalkan libur lebaran. Maunya libur diperpanjang (…emang perusahaan kakek lo 😀🙈).
Alhasil, mereka yang belum bisa “MOVE-ON” ini dihinggapi rasa murung, cemas, under-motivated, gampang tersinggung, bahkan jika terus berlanjut bisa berujung depresi.
Inilah gejala SINDROM PASCA LEBARAN atau istilah umum dalam psikologi “post-holiday blues”.
Sindrom ini merujuk pada munculnya tekanan mental, kecemasan, dan kesedihan jangka pendek begitu libur lebaran berakhir.
Pasalnya, begitu libur lebaran lewat, banyak orang merasa belum siap menerima kenyataan untuk beraktivitas normal, seperti sebelum libur.
Begitu masuk hari pertama kerja, mereka yang terjangkit sindrom ini akan merasakan HATI KOSONG dan JIWA DINGIN sedingin kulkas.
Terdapat “SENSE of LOSS”, rasa kehilangan momen-momen indah kumpul-kumpul dengan kerabat di kampung.
Sense of loss inilah yang bikin gamang, kekecewaan, dan kesedihan berat.
Tak heran jika banyak kantor-kantor masih sepi di minggu pertama kembali bekerja.
Yang masuk kerja pun MATI GAYA dan KOSONG JIWA tak tahu apa yang harus dilakukan di kantor 😀🙈
Bahkan sudah menjadi cerita umum, banyak ASN kena razia karena bolos di hari pertama masuk kerja setelah libur lebaran.
Bagaiman trik membunuh sindrom pasca lebaran?
Lakukan transisi yang SMOOTH, buat ritme kerja yang tidak langsung tancap gas.
Lanjutkan “LIBURAN KECIL” dengan nge-mal atau ke tempat wisata setelah balik dari kampung.
Inilah yg dijadikan peluang pengelola mal, dengan menggelar sale pasca lebaran, untuk “memperpanjang” liburan pasca mudik.
by @yuswohady