SERANGAN IRAN & AKSI BOIKOT

Uncategorized

Iran akhirnya menyerang Israel.

Konflik di Gaza pun mengalami eskalasi dan memasuki babak baru perang terbuka Israel/AS dan sekutunya vs Iran dengan sekutunya.

Akibatnya bisa ditebak, pendudukan dan kekejaman Israel di Gaza akan kian menjadi-jadi.

Konflik yang awalnya “hanya” insiden serangan Hamas di sebuah konser musik dan penyanderaan warga Israel. Kini melebar menjadi perang besar Timur Tengah yang melibatkan sekutu kedua-belah pihak.

Apa dampak eskalasi ini ke aksi boikot produk pro-Israel di Tanah Air?

BOIKOT PERMANEN?

Seiring merebaknya perang ini, kita bakal rutin disuguhi video di media tentang kekejaman Israel di Gaza. Perlu diingat bahwa Gaza “epicentrum” konflik besar tsb.

Hal ini akan membentuk sentimen boikot yang makin kuat dari warga +62.

Kalau sebelumnya mereka berpikir baahwa aksi boikot ini bersifat sementara dan akan berakhir begitu sandera diserahkan, maka kini boikot sebagai bentuk dukungan kepada rakyat Palestina akan berlangsung terus-menerus bahkan permanen.

Dalam konsep consumer behavior, perilaku usage konsumen bergeser dari “occassional” ke “habitual” dan akhirnya menjadi “permanent”.

BRAND HARUS APA?

Studi yang saya lakukan bersama tim inventure menunjukkan, ada 39% konsumen muslim yang akan menghentikan aksi boikot produk pro-Israel, jika brand-brand tersebut melakukan aksi kepedulian Palestina (donasi, aksi peduli, pengiriman bantuan, dll).

Kelompok konsumen muslim inilah yang saya sebut muslim “rationalist” dan “universalist”.

Tujuan mereka memboikot adalah pertimbangan kemanusiaan, yaitu kepedulian kepada warga palestina dan mengurangi penderitaan mereka akibat penindasan Israel.

So, brand-brand yang terkena boikot kini tak bisa lagi tinggal diam dan menunggu. Mereka harus mulai sistematis menunjukkan komitmen membantu mengurangi penderitaan saudara-saudara kita di Palestina. Bukan sekedar tindakan lip service or aksi PRing yang palsu.

Memang masih banyak, sekitar 61%, yang tak akan bergeming oleh aksi kepedulian tersebut. Mereka akan tetap kenceng memboikot. Mereka adalah konsumen muslim “conformist”.

by @yuswohady

Bagikan Artikel ini ➙

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *